Tesla Manaf Gitaris Muda Indonesia yang Mendunia

Kompas.com - 10/02/2015, 21:33 WIB
Tesla Manaf merilis album terbarunya di New York, Amerika Serikat, akhir tahun lalu. BBCTesla Manaf merilis album terbarunya di New York, Amerika Serikat, akhir tahun lalu.
EditorTri Wahono


Di sebuah kamar mungil di bilangan Dago, Bandung, Tesla Manaf memainkan gitar elektriknya. Dari tempat yang telah dihuninya sejak awal masa kuliah 10 tahun lalu itu, Tesla menghasilkan karya-karya yang kini mendunia.

Pada akhir Desember 2014 lalu, album musik Tesla yang berjudul A Man’s Relationship with His Fragile Area dirilis MoonJune Records di New York, Amerika Serikat.

Album yang terdiri dari dua bagian itu memuat delapan track baru dan enam track dari album keempatnya yang bertajuk It’s All Yours. Tesla menyebut album tersebut merupakan pembuktian keyakinannya setelah bertahun-tahun sejumlah orang menyebut musik karyanya aneh.

Genre yang ditekuni gitaris berusia 27 tahun itu memang terbilang tidak biasa. Sejak aktif tampil dari satu panggung ke panggung lain dan merilis album pertama pada 2010 lalu, dia setia pada genre "akustik progresif atau neoklasik".

Genre tersebut, menurut Tesla, memiliki kerumitan jazz dan tema seperti musik klasik.
"Semua track ada notasi tertulis, tidak ada yang diulang dan tidak ada improvisasi. Ini beda dengan lagu jazz yang, misalnya, berdurasi sembilan menit namun temanya hanya 30 detik lalu sisanya improvisasi," kata Tesla.

BBC Album berjudul A Man's Relationship with His Fragile Area berisi delapan track baru.

Konvensional

Selain perbedaan itu, ciri khas komposisi Tesla adalah kenihilan struktur seperti yang biasa ditemui pada lagu-lagu konvensional.

Lagu-lagu ciptaan Tesla tidak mengikuti standar intro, refrain, bridge, dan chorus. Dalam A Man’s Relationship with His Fragile Area, contohnya, dia memetik senar seraya mengikuti nada dan intonasi suara seorang perempuan.

Hal ini sebenarnya bukan alunan asing di ranah jazz. Musikus George Benson biasa melakukannya saat bersenandung dalam tembang This Masquerade. Di Indonesia, ada Mus Mujiono yang melakoninya ketika melantunkan Arti Kehidupan.

Namun, bedanya dengan Tesla, teknik Benson dan Mus diterapkan pada sebuah lagu alih-alih kalimat percakapan.

Faktor-faktor seperti itulah, menurut Tesla, yang membuatnya sulit diterima pendengar di Indonesia.

Apalagi album barunya tidak seperti album sebelumnya, It’s All Yours, yang menampilkan harmonisasi gitar dan gamelan Bali hasil kolaborasi dengan unit kesenian Maha Gotra Ganesha dari Institut Teknologi Bandung.

"Masyarakat Indonesia masih sulit menerima musik yang saya mainkan. Namun, saya yakin ini pasti ada pasarnya, entah di ujung belahan dunia manapun. Keyakinan saya terbukti saat pemilik MoonJune Records mengontrak saya untuk pembuatan dua album. Dia memberikan kebebasan saya untuk berkarya. 'Anda buat apa yang ingin Anda buat karena kami tahu bagaimana cara menjualnya'," ujar Tesla.

Kebebasan itu membuat Tesla kian semangat mencipta. Bahkan, tahun ini dia berencana tur ke sejumlah kota di Amerika Serikat-suatu kemewahan bagi musik yang penuh kerumitan.(Jerome Wirawan)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X