The Imitation Game: Kegeniusan di Dunia Rata-rata

Kompas.com - 15/02/2015, 17:10 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Dengan akting yang luar biasa dan kisah intelijen yang tidak biasa, The Imitation Game yang terinspirasi dari kisah nyata ini menjadi film yang memikat. Kita dihadapkan pada nasib kegeniusan manusia yang tidak memperoleh tempat selayaknya di dunia yang tingkatannya rata-rata.

Alan Turing (Benedict Cumberbatch), pemuda genius, ahli matematika yang sepanjang hidupnya dilecehkan oleh sekitarnya, direkrut oleh intelijen Inggris pada Perang Dunia II. Ia bersama sejumlah ahli lain ditugaskan untuk memecahkan pesan-pesan sandi Nazi Jerman yang menggunakan mesin sandi Enigma. Pesan-pesan pasukan Jerman itu memang tercegat oleh intelijen Sekutu, tetapi kodenya tidak dapat dipecahkan. Akibatnya, kekuatan perang Sekutu selalu luluh lantak oleh gempuran pasukan Jerman.

Turing yang berpembawaan dingin, hanyut dalam pikirannya sendiri, selalu canggung dalam berkomunikasi dengan orang lain. Ia bisa dengan mudah melihat relasi dalam pola-pola rumit yang tak tertangkap mata biasa. Sebaliknya, ia tak bisa menangkap makna komunikasi sederhana dalam lingkungannya. Turing, misalnya, bingung menjawab ketika diajak makan siang oleh rekan-rekannya.

Kilas balik yang munculnya berselang-seling dalam film ini membantu kita untuk mengenal dunia Turing dalam tiga periode penting, yaitu masa "kini" ketika Turing mengalami proses interogasi oleh detektif Inggris; masa ketika ia remaja dan pertama kali dikenalkan pada dunia sandi oleh satu-satunya sahabat, Christopher; dan masa yang menjadi fokus film ini ketika ia bersama para ilmuwan lain dikumpulkan di Bletchley Park untuk memecahkan sandi Enigma.

Satu hal yang diyakini Turing, mesin harus dipecahkan oleh mesin. Namun, untuk meyakinkan atasannya, Komandan Denniston (Charles Dance), bukan hal mudah. Di sini kita menyaksikan "penderitaan" Turing yang pemikirannya jauh ke depan namun tak ada yang bisa mengerti, dan malah harus berhadapan dengan aturan militer yang kaku dan penuh disiplin. Untunglah hadir Joan Clarke (Keira Knightley), perempuan genius yang bisa mengerti "bahasa" Turing. Turing terpikat bukan karena kecantikan Joan, melainkan karena keterpesonaannya pada alam pikir Joan yang setara dengan dirinya, dan Joan memiliki apa yang tidak dimilikinya, keluwesan sosial. Bersama Joan, Turing merasa aman dalam dunia yang tidak dimengertinya.

Terlecut oleh "ketidaksengajaan" Turing kemudian menemukan "kunci" yang membuka jalan terwujudnya mesin Christopher—diambil dari nama sahabat yang dicintainya—yang merupakan cikal bakal komputer yang kita nikmati saat ini. Ketegangan berikutnya adalah bagaimana membuat pihak Jerman tidak tahu bahwa Sekutu telah berhasil membongkar Enigma.

Dramatisasi selanjutnya adalah interpretasi terhadap kehidupan nyata Turing yang kesepian dan tidak bahagia karena harus menyembunyikan identitasnya sebagai gay. Pada masa itu, orientasi gay masih dianggap sebagai tindakan ilegal. Turing memilih untuk menjalani terapi hormon daripada dipenjara, pilihan yang perlahan "membunuh"-nya. Sampai saat ini tetap ada spekulasi bahwa ia dibunuh oleh intelijen Inggris sendiri karena kekhawatiran kegeniusannya akan dimanfaatkan pihak lawan di masa Perang Dingin. Turing memang hidup di zaman yang salah. Ia bunuh diri di usia yang masih sangat muda, 41 tahun.

Film ini istimewa karena Cumberbatch bermain cemerlang. Sulit membayangkan aktor lain yang bisa memerankan kegeniusan dan keanehan Turing dengan demikian intens. Oscar sangat pantas untuk dirinya. (MYR)

The Imitation Game
Sutradara: Morten Tyldum
Produser: Nora Grossman
Skenario: Graham Moore
Pemeran: Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, Rory Kinnear, Charles Dance
Produksi: Black Bear Pictures, FilmNation Entertainment.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.