Ke Jakarta, Balawan Bawa Konser Campur Teater Musikal

Kompas.com - 04/08/2015, 20:47 WIB
Gitaris I Wayan Balawan di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2015) KOMPAS.com/THALIA SHELYNDRA WENDRANIRSAGitaris I Wayan Balawan di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2015)
|
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Gitaris I Wayan Balawan (41) dari Bali, bersama grup musiknya, Batuan Ethnic Fusion, akan segera memberi sajian konser berpadu teater musikal tradisional. Pertunjukan bermuatan kritik sosial terkait kehidupan para pemusik tradisional itu akan diadakan di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Rabu (5/8/2015), sebagai bagian dari Forum World Music Salihara 2015.

"Udah lama dengan format band tidak main di Jakarta. Sekarang main lagi, pertama kalinya di Salihara ini dengan kombinasi. Saya kombinasi antara teater musikal dengan konser. Pengin buat format pertunjukan yang agak berbeda. Artinya, dalam pertunjukan ini diperlihatkan proses penciptaan karyanya, sehari-harinya seniman tradisional itu seperti apa. Jadi, bukan cuma konser, enggak tahu latar belakangnya gimana. Lebih detail. Oh, ternyata seniman tradisional sehari-harinya seperti ini, kehidupannya seperti ini. Suka dukanya ini juga ditampilkan dalam konser ini. Jadi, bukan hanya konser dari lagu ke lagu. Entertainment yang lebih mendalam sekaligus menambah wawasan untuk orang yang belum tahu," papar Balawan dalam wawancara di Komunitas Salihara, Selasa (4/8/2015).

Balawan menilai, masyarakat perlu tahu liku-liku kehidupan para pemusik tradisional.

"Gambaran yang jelas, tempat di masyarakat kurang. Saya menggunakan kacamata di Bali ya. Jadi seniman itu, seperti di Bali, hanya seperti komoditas pariwisata. Hanya tampil di hotel, nemenin bule-bule makan, main di lobi hotel. Ngerti enggak? Kayak ornamen, bukan sebagai tokoh utama. Hal seperti itu, untuk survive susah juga. Jadi seniman susah. Mereka ada pekerjaan lain lagi (di luar seni), jualan, sopir taksi, macam-macam. Latar belakang itu yang orang enggak tahu. Kelihatannya aja manggung pakai pakaian mengilap, make up menor, satu sisi beli kosmetik aja susah," tutur personel grup musik Trisum ini.

Dalam pertunjukan berdurasi 120 menit itu akan disuguhkan 10 lagu. Penabuh drum Dion Subiakto digandeng.

Dengan penampilannya itu, Balawan juga memiliki tujuan menjadikan musik tradisional, terutama gamelan, sebagai tren generasi muda.

"Saya pengin bikin tren di kalangan anak muda, bagaimana main gamelan itu keren, bisa go international. Kalau untuk orang kampung, misal main gamelan, bisa main ke Jakarta, ke luar negeri. Ya, lebih banyak main ke luar negerinya, he he he," kata ayah dua orang anak ini.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X