Peraih Lifetime Achivement FFI 2015 Kenang Pertengkaran dengan Teguh Karya

Kompas.com - 24/11/2015, 13:18 WIB
George Kamarullah diabadikan usai menerima  Piala Citra Lifetime Achievement FFI 2015, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Senin (23/11/2015) malam. KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG PANGERANGGeorge Kamarullah diabadikan usai menerima Piala Citra Lifetime Achievement FFI 2015, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Senin (23/11/2015) malam.
|
EditorIrfan Maullana

TANGERANG, KOMPAS.com --
Aktor, juru kamera, dan sinematografer senior George Kamarullah (66) dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement Festival Film Indonesia (FFI) 2015. George yang menggenggam Piala Citra yang ketujuh sepanjang kariernya mengaku mengingat pertengkarannya dengan mendiang sutradara Teguh Karya.

"Bertengkar karena kadang dia itu kan kalau ingin sesuatu susah diterjemahkan. Dan saat itu saya enggak bisa lakukan maunya dia. Saya tinggalkan kamera, dia marah sama saya," ucapnya sambil tersenyum dalam malam puncak FFI 2015 yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, Senin (23/11/2015) malam.

Di sisi lain, pria asal Ambon itu bersyukur karya-karyanya baik itu sebagai aktor, sinematografer, editor maupun juru kamera mendapat apresiasi.

"Ini perjalanan panjang saya. Mungkin itu yang dihargai," tuturnya.

George sebelumnya telah memperoleh tiga piala Citra untuk Penyunting Gambar Terbaik dan tiga untuk Pengarah Sinematografi Terbaik.

"Terakhir saya ikut FFI itu 2006, habis itu tidak lagi. Kenapa? karena lebih ke pribadi. Kan ada kasus pas 2006 itu, awal mulanya itu," ucap George.

Merujuk pada Wikipedia, George pernah menjadi seorang aktor, ketika aktingnya dikatakan tidak memuaskan oleh Slamet Rahardjo, maka George pun kemudian beralih profesi menjadi seorang editor yang kemudian menjadi seorang juru kamera, terakhir menjadi sinematografer. Profesinya sebagai aktor disebut sebagai bentukan dari sineas ternama Teguh Karya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebetulnya George tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai juru kamera. Sewaktu muda George pernah kuliah di jurusan konstruksi dan administrasi, tapi tidak sampai selesai. Pada tahun 1976 ia baru menekuni pengambilan dan penyuntingan gambar.

Selama lima tahun, dia menjadi asisten sinematografer dan editor Tantra Suryadi. Ia bertugas memanggul kamera atau mengumpulkan gulungan film yang sudah tidak terpakai lagi.

Sebagai seorang juru kamera, George memiliki prinsip keras, tidak mau terlibat dalam produksi bila skenarionya jelek dan bintang filmnya tidak disiplin.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.