Joko Anwar: Pemodal Asing Masuk, Industri Film Indonesia Semarak

Kompas.com - 10/02/2016, 14:21 WIB
Joko Anwar hadir pada acara pengumuman nominasi Festival Film Indonesia 2015 di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (12/11/2015) malam. KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG PANGERANGJoko Anwar hadir pada acara pengumuman nominasi Festival Film Indonesia 2015 di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (12/11/2015) malam.
|
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Industri film Indonesia akan semakin semarak, jika Pemerintah mengesahkan revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk sektor film pada bidang-bidang produksi, distribusi, dan ekshibisi.

Hal itu dikatakan oleh sutradara Joko Anwar (40).

"Kalau revisi disahkan, investasi dan modal asing akan masuk," ujar Joko dalam jumpa pers pernyataan bersama Pekerja Kreatif Film Indonesia (PKFI) di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (9/2/2016).

DNI merupakan daftar bidang usaha yang tertutup dan terbuka dengan persyaratan, pada bidang penanaman modal.

"Dengan adanya investasi, akan memungkinkan banyak film Indonesia bakal diproduksi, termasuk yang bertema budaya lokal. Mungkin, tema-tema yang selama ini belum diproduksi karena tak mendapat modal, juga akan diproduksi," ujar sutradara film A Copy of My Mind ini lagi.

"Kalau itu terjadi, film-film di Indonesia akan semakin beragam secara tema, lebih semarak, dan menarik," imbuhnya.

Joko menyebut China sebagai contoh. Sepuluh tahun lalu negara itu membuka diri untuk para pemodal asing bagi industri film.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sepuluh tahun lalu China membuka diri, sekarang film nasionalnya naik 40 persen, bahkan ekspansi ke Hollywood juga kan," tuturnya.

Joko menyebut pula bahwa ketakutan akan penjajahan dengan modal asing masuk ke industri film Indonesia tidaklah beralasan.

"Enggak beralasan sama sekali ketakutan seperti itu. Secara mekanisme aja kan enggak kebayang gimana caranya," tuturnya.

"Kalau ngomongin asing masuk ke Indonesia, selama ini kan platform-nya sudah banyak. Ada channel TV, YouTube, internet. Tapi, bukan berarti mereka menjajah.  Justru banyak informasi akan budaya bisa didapat dari situ," terang Joko.

Menurut Joko, modal asing yang masuk ke Indonesia akan bisa menambah pembuatan gedung bioskop dan layar film di negeri ini. Dengan begitu, akan semakin banyak tempat pemutaran film di Indonesia.

"Industri film sehat, kalau ekosistemnya juga sehat. Nah, kita enggak ada ekosistemnya. Jumlah layar sekarang kan sedikit untuk Indonesia. Kalau jumlah layar makin besar, itu akan buka kesempatan bagi film-film Indonesia untuk tayang," ujarnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.