Indro: Tahun 1983, Warkop DKI Distop gara-gara "Ngalahin" Film PKI

Kompas.com - 09/03/2016, 09:30 WIB
Indro 'Warkop' diabadikan usai jumpa pers drama musikal 'Janji Toba', di Artpreneur Lotte Avenue, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2015) malam. KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG PANGERANGIndro 'Warkop' diabadikan usai jumpa pers drama musikal 'Janji Toba', di Artpreneur Lotte Avenue, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2015) malam.
|
EditorKistyarini
JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagai sineas gaek, Indro Warkop DKI mengaku sempat memiliki pengalaman buruk saat ajang penghargaan untuk insan perfilman.

Saat itu, pada masa Orde Baru, film Warkop DKI sempat dihentikan lantaran perolehan penontonnya melebihi film wajib kala itu, yakni, Pengkhianatan G 30 S PKI.

"Dulu tahun '83 Warkop DKI pernah distop gara-gara ngalahin film PKI," ungkap Indro saat ditemui di konferensi pers Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) di Senayan City, Jakarta Selatan, Selasa (8/3/2016).

Ia pun merasa bersyukur jika pada era sekarang para sineas telah diberikan kebebasan untuk berkarya. Beberapa penghargaan pun lahir. Salah satunya ialah Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) ini.

"Saya bangga sekali di negeri yang semakin bebas, semakin demokrasi ini, ada apresiasi yang seperti ini. Betapa film yang ditonton orang di bioskop sekarang ini semakin yang bermutu," kata Indro lagi.

Pasalnya, hal inilah yang sangat didambakan kedua rekannya, yakni Dono dan Kasino.

"Itu yang selalu saya inginkan dari zamannya Warkop DKI dulu. Coba kalau zaman dulu sudah ada penghargaan-penghargaan kayak gini," katanya.

Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) adalah sebuah penghargaan bagi insan perfilman "besutan" SCTV (Surya Citra Televisi).

Sepuluh film terlaris sepanjang 2015 adalah Surga yang Tak Dirindukan, Comic 8: Casino Kings Part 1, Bulan Terbelah di Langit Amerika, Magic Hour, Single, Ngenest, Di Balik 98, Negeri Van Oranje, 3 Dara, dan Air Mata Surga.

Film-film itu akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Monty Tiwa, Avesina Soebli, Vino G Bastian, Wulan Guritno, Cesa David Lukmansyah, Guntur Soeharjanto, dan Roy Lolang untuk kemudian dibagi menjadi 17 nominasi.

Pemenang di setiap nominasi akan diumumkan pada Kamis, 17 Maret 2016 mendatang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X