Joko Anwar Terilhami Lukisan Abad ke-19

Kompas.com - 13/09/2016, 22:09 WIB
Joko Anwar memutar film pendeknya, Jenny, untuk aplikasi Tribe di CGV Blitz Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2016). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGJoko Anwar memutar film pendeknya, Jenny, untuk aplikasi Tribe di CGV Blitz Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2016).
|
EditorIrfan Maullana

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sutradara Joko Anwar segera menelurkan karya film pendek terbarunya yang terilhami dari lukisan karya maestro lukis Tanah Air, Raden Saleh.

Lukisan berjudul Wounded Lion dari abad ke-19 akan dikemas Joko ke dalam cerita dengan latar waktu Jakarta masa kini.

"Setting filmnya Jakarta modern. Genrenya drama," ucap Joko kepada Kompas.com di CGV Blitz Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2016).

Joko belum bisa menceritakan detail kisah yang akan diangkat, ia hanya mengatakan bahwa ada satu tema besar yang ditransfer dari lukisan tersebut ke film pendeknya.

"Kalau lukisannya sendiri kan dari jauh karakter singa, ini sangat powerfull. Kita lihat dia marah, tapi ternyata ketika kita lebih dekat, dia terluka oleh tombak kan. Jadi aku juga mengadaptasikan itu ke situasi Indonesia sekarang," ujarnya.

Sementara untuk pemerannya, Joko mengaku sengaja tak menempatkan aktor-aktor kawakan Indonesia.

"Aku ambil pemain yang belum punya nama. Baru pertama kali main film. Kebetulan pada waktu itu aku butuh look-nya (penampilan) sangat sehari-hari. Jadi kami casting orang-orang yang memiliki look itu dan yang terpilih adalah orang yang belum pernah main film," ujarnya.

"Sudah selesai shooting. Sudah diterima di sebuah festival dan akan tayang perdana internasional premiernya di sebuah festival, tapi belum dibocorin," tambah Joko.

Diberitakan sebelumnya, tak hanya Joko, proyek ini juga melibatkan empat sutradara lain dari Asia Tenggara, yakni Apichatpong Weerasethakul (Thailand), Brillane Mendoza (Filipina), Eric Khoo (Singapura), dan Ho Yuhang (Malaysia).

Para sineas itu pun membuat film pendek dari beberapa lukisan berjudul Merapi, Eruption by Day and Merapi, Eruption by Night (1865) karya Raden Saleh; Marketplace During the Occupation (1942) karya Fernando Cueto Amorsolo; Portable Cinema (1977) karya Chua Mia Tee; dan Aku (1958) karya Latiff Mohidin.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X