Wregas Bhanuteja Melihat Film dari Sudut Pandang Universal

Kompas.com - 30/03/2017, 10:30 WIB
Wregas Bhanuteja diabadikan usai ditemui dalam acara Creative Economy and Cultural Industries in a Digital World di Hotel Harris Vertu, Harmoni, Jakarta, Rabu ( 29/3/2017). KOMPAS.com/SINTIA ASTARINAWregas Bhanuteja diabadikan usai ditemui dalam acara Creative Economy and Cultural Industries in a Digital World di Hotel Harris Vertu, Harmoni, Jakarta, Rabu ( 29/3/2017).
|
EditorIrfan Maullana

JAKARTA, KOMPAS.com – Setelah film Prenjak meraih penghargaan film pendek dalam Cannes Festival Film 2016 di Prancis, sutradara Wregas Bhanuteja mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop pengembangan skenario film pada akhir tahun lalu.

Kepada Kompas.com, Wregas mengungkapkan bahwa pelatihan skenario itu sangat membantunya untuk bisa melihat film dari sudut pandang universal.

"Orang-orang di sana memberi masukan dan mentor-mentor itu punya sudut pandang yang lebih luas. Tidak hanya sekadar di Indonesia," kata Wregas saat dijumpai usai acara Creative Economy and Cultural Industries in a Digital World di Hotel Harris Vertu, Harmoni, Jakarta, Rabu (29/3/2017).

"Kalau saya cuma di Indonesia dan ngobrol dengan sesama orang Indonesia, mungkin saya tidak bisa melihat dari sudut pandang yang universal itu," lanjutnya.

Baginya, sudut pandang seperti demikian penting dalam sebuah film.

"Ketika di sana, mereka bisa melihat bahwa, 'Oh, di adegan ini, saya tidak bisa memahami. Ini hanya sebuah budaya yang terjadi di Indonesia. Tetapi sebagai orang Eropa, saya tidak memahamai ini'," katanya.

Oleh karena itu, Wregas belajar untuk membuat adegan tersebut dapat dimengerti dengan mudah, meski memiliki unsur lokal yang kental.

"Jadi, saya merasa cerita saya bisa jadi universal. Namun, tetap lokal Indonesia," ujar Wregas.

Diberitakan sebelumnya, saat ini ia tengah menggarap sebauh naskah film panjang pertamanya. Saat ini, ia sedang mengembangkan draft tahap empat.

"Mungkin gambaran (film panjang ini) aku belum biasa cerita terlalu banyak, tapi sebagian besar setting-nya akan di Jakarta," ucapnya lagi.

Diberitakan sebelumnya, film terbarunya ini tidak akan mengusung budaya lokal Jawa seperti film pendek Prenjak miliknya.

"Ini lebih kontemporer, lebih ke gejala sosial masyarakat yang terjadi di Jakarta," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X