Arie Kriting Menjiwai Bahasa

Kompas.com - 26/04/2017, 15:16 WIB
Pemain film Comic 8: Casino Kings, Arie Kriting, berkunjung ke kantor Redaksi Kompas.com, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2015). Film komedi yang diperankan oleh sejumlah stand up comedian atau komika tersebut akan diputar di gedung-gedung bioskop Tanah Air mulai 15 Juli 2015. KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOPemain film Comic 8: Casino Kings, Arie Kriting, berkunjung ke kantor Redaksi Kompas.com, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2015). Film komedi yang diperankan oleh sejumlah stand up comedian atau komika tersebut akan diputar di gedung-gedung bioskop Tanah Air mulai 15 Juli 2015.
EditorAti Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Komika yang kini lebih banyak tampil sebagai pemain film, Arie Kriting, sangat menjiwai tampil dengan sejumlah bahasa daerah, khususnya dari Indonesia timur.

Menurut Arie, bahasa-bahasa daerah di timur Indonesia sangat kaya dan harus diperkenalkan ke penjuru dunia.

"Indonesia timur itu kaya (bahasa). Terdiri dari bermacam-macam dialek, logat, dan bahasa. Saya kira kita harus memperkenalkan bahasa kita sendiri," kata Arie, beberapa waktu lalu.

Dalam sejumlah perannya. Arie tetap kental memakai logat Indonesia timur.

"Saya pernah main film pakai logat Papua juga logat Flores. Sekarang saya memilih pakai logat Makassar. Tidak ada yang susah sebab saya lahir dan besar di Kendari. Logatnya tak jauh beda," ujar salah satu pemeran di film Stip dan Pensil itu.

Arie Kriting memang konsisten dengan logat timurnya. Sejak audisi di Stand Up Comedy Kompas TV, dia telah tampil dengan komedi yang menampilkan kegetiran di Indonesia timur, lengkap dengan logat dan dialeknya.

Salah satu bahan lawakan Arie adalah persoalan pendidikan dan infrastruktur yang sangat tidak merata.

"Pendidikan itu sangat penting. Namun, saya melihat Jakarta yang kumuh dengan anak-anak yang tidak bersekolah. Jadi, boro-boro memikirkan Indonesia timur yang tertinggal, di Jakarta saja seperti ini," kata Arie. (JAL)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 April 2017, di halaman 32 dengan judul "Menjiwai Bahasa".

Baca juga: Arie Kriting Jajal Akting di Film Drama dan Arie Kriting Impikan yang Horor



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X