Kekuatan Asia dan Seni ala Zhu Wei

Kompas.com - 11/12/2017, 20:36 WIB
Zhu Wei, Album of Vernal Equinox, No. 2, 2011. zhuweiartden.comZhu Wei, Album of Vernal Equinox, No. 2, 2011.
EditorAmir Sodikin

China sebagai raksasa Asia selain India dalam dunia seni kontemporer dunia juga sangat diperhitungkan di Barat. Ribuan tahun warisan ekspresi seni yang manifestasinya ekspresi -ekspresi kuat dari era berbagai dinasti memberi optimisme budaya China memberi sumbangsih pada seni kontemporer global.

Nama-nama seperti Zhang Xiaogang, Yue Minjun, Fang Lijun, Ai Wei Wei, Cai Guo-Qiang, sampai Zhu Wei sangat diperhatikan oleh museum maupun Galeri Nasional serta event bergengsi semacam Biennale Art global.

Tak ketinggalan institusi lelang komersil seperti Christie’s dan Sotheby’s sejak 3 dekade lalu memampangkan karya-karya seni kontemporer China.

Salah seorang perupa kuat China itu, Zhu Wei, yang dikenal dengan ciri lukisan tinta China kontemporer selama Agustus sampai awal Oktober 2017, berkesempatan berpameran solo di Museum Nasional Indonesia.

Sebagai perupa Zhu Wei selain suntuk melukis, ia dikenal menyukai menuliskan gagasan-gagasan artistiknya dan pandangan-pandangan isu-isu sosial dan politik pun sikap kritis terhadap negerinya. Buah pikirannya berserakan dalam esai-esainya yang diekspresikan di sejumlah media pernerbitan seni dan budaya serta buku-buku.

Zhu Wei bersama sejumlah pengamat, kurator, dan direktur museum di Asia mengungkap di buku pengantar pamerannya di Jakarta dengan judul sama dengan pamerannya: Virtual Focus.

Dalam buku tersebut menyebut keberadaan seni kontemporer China dan relasinya dengan budaya China. Yang berkaitan dengan masa revolusi kebudayaan, pasca-tragedi Tiananmen, imitasi seni China terhadap gaya modern Barat, juga seni kontemporer China yang berhadap-hadapan dengan seni kontemporer global.

Yang paling menarik adalah bagaimana pengamat seni Asia menggungkap bahwa Zhu Wei mewarisi teknik lukisan China klasik yang berusia 3.000 tahun sebagai sebuah sikap artistiknya hari ini, yakni teknik dan gaya tradisional Gongbi.

Gongbi menunjukkan pada kita, bahwa eksplorasi artistik tidak menanggalkan akar-akar kultur yang mengendap, bahkan ribuan tahun lamanya.

Zhu wei mendemontrasikan transformasi lukisan China klasik untuk mengadaptasi perkembangan seni kontemporer lokal di China. Bahkan menawarkan kekuatan lokalitas dalam dialog seni yang dikatakan dalam abad-abad sebelumnya hanya bagian dari “seni tradisional” yang kemudian kini dikatakan sebagai kekuatan ciri global yang datang dari China.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X