Semar-Semar yang Kita Butuhkan - Kompas.com

Semar-Semar yang Kita Butuhkan

Kompas.com - 16/04/2018, 18:58 WIB
Sohieb Toyaroja, Game of Thrones, 2mx180cm, oil on canvas, 2018Sohieb Toyaroja Sohieb Toyaroja, Game of Thrones, 2mx180cm, oil on canvas, 2018

BUMI benar-benar diramalkan akan mengalami bencana dahsyat dalam waktu dekat. Hal yang lazim disebut katastropik. Ini tak berkaitan sama sekali dengan pernyataan tokoh politik lokal tentang Indonesia yang akan “bubar” pada 2030.

Namun skenario lebih mengerikan: futurolog menandai adanya gejala-gejala kiamat yang disebabkan ulah manusia, karena mereka terlalu agresif. 

Maret lalu, cendekiawan fisika yang tenar dengan teori Big-Bang (ledakan yang melahirkan alam semesta) Stephen Hawking, meninggal.

Setahun sebelumnya, ia menganulir prediksinya bahwa manusia tak lagi bisa 1.000 tahun tinggal di Bumi, namun hanya 100 tahun mulai dari sekarang. Waktu yang cukup dekat.

Hawking di serial sains BBC-nya, Tomorrow's World, mengantisipasi adanya perubahan iklim, serangan asteroid yang terlambat, epidemi, dan pertumbuhan populasi sebagai kesalahan yang mengakibatkan kehancuran Bumi.

Berarti, anak-anak kita kelak akan menghadapi skenario distopia ini. Distopia adalah tempat khayalan yang segala sesuatunya sangat buruk dan tidak menyenangkan serta semua orang tidak bahagia atau ketakutan. Distopia merupakan lawan dari utopia.

Hawking tak sendirian, penghancuran Bumi karena tak terkendalinya artificial inteligence (AI) atau kecerdasan buatan menohok nasib Bumi, yang tesisnya didukung penuh oleh Elon Musk, penemu mobil pintar Tesla dan proyeknya umat manusia yang bersiap mengungsi ke planet Mars. Film–film fiksi ilmiah juga dengan jenial membaca tanda-tanda ini sejak lama.

Dokumenter terbaru Musk, Do You Trust This Computer? , menarasikan di zaman kecerdasan buatan sebenarnya kita pelan-pelan menciptakan "diktator abadi yang tidak akan pernah bisa kita lepaskan." Bumi diambil alih oleh mesin-mesin yang ironisnya buatan manusia.

DeepMind, sebuah model AI milik Google pada 2018 menunjukkan bagaimana kita harus berhati-hati ketika merancang robot dan kecerdasan buatan. Dua model dalam permainan simulasi komputer dicoba, tiba-tiba salah satu model demikian destruktif tatkala terdesak.

Pihak Facebook juga mangaku, akhir 2017 lalu harus “membunuh” dua model AI-nya, karena mereka saling berdialog dengan bahasa mesin, yang tak bisa dipahami manusia dan menolak perintah manusia pembuatnya.

Sementara membaca Buku Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat yang sempat meraih Nobel perdamaian, di The Future (2013), kita menemukan analisa masa depan tragik pula.

Mulai dari ekonomi global yang menaruh harapan perimbangan kekuatan negara dibanding arogansi korporasi ionternasional, revolusi digital, dan bioteknologi sebagai keniscayaan sains, sampai mendesaknya perhatian penentu kebijakan publik tentang isu iklim ekstrem dan pemanasan Bumi serta transisi energi.

Gore, selebihnya membahas melimpahnya populasi yang menekan konsumsi sumber daya alam yang berlebihan, meningkatkan krisis teritori berskala global. Segala yang ditulis Gore dalam 378 halaman di bukunya laiknya “seismograf”.


Mawas diri

Rambu-rambu peringatan akan segera datangnya “gempa lebih dahsyat” bagi Bumi, jika perubahan tidak segera diantisipasi. Riset Gore dan semua gejala itu dengan sangat semangat sudah hampir seabad ini diuar-uarkan oleh HG Wells, John Naisbitt, sampai Alfin Toffler. Akar dari semuanya: manusia memang terlalu agresif.

Dari sanalah, kita layak mawas diri. Segera kita mengingat orang-orang Jawa sering mengaitkankannya dengan sosok Semar dalam diri manusia. Di masa-masa krisis, tatkala zaman demikian melaju tanpa arah, ilmu pengetahuan, dan kekuasaan menjadi segala.

Bahkan keyakinan-keyakinan suci, yang berlandas reliji disalahpahami dan menjadi amunisi untuk membakar amarah diri.

Sosok Semar kemudian menjadi rujukan penting bagi siapa saja. Tak hanya orang Jawa. Bagaimana seseorang terus-menerus mencari kesejatian, eling dalam kosmologi besar maupun kecil-nya.

Ia mampu menahan ego, melihat jauh ke dalam dirinya sendiri, sebelum melakukan sesuatu yang menyakiti liyan, sesama manusia, alam dan seisinya.

Sohieb Toyaroja Sohieb Toyaroja, Highway To Heaven Sangkan Paraning Dumadi, 2mx180cm, oil on canvas, 2018 (2)
Semar adalah tauladan dan idealisasi manusia yang memiliki nilai-nilai iIlahiah, yang dalam pandangan yang sama disebut Gusti yang Katon. Tuhan yang terlihat atau manusia adikodrati.

Dalam beberapa peradaban dunia konsep seperti ini disebut Ubermensch (Jerman), dan kita mengenalnya di keyakinan Islam dengan konsep Insan Kamil.


Vox populi vox dei

Semar sejatinya abdi sekaligus raja. Ia metafora kesalehan, amat dekat dengan kekuasaan namun tidak berkuasa. Ia beralih rupa menjadi dzat yang melampaui segala, yang melihat hidup adalah sebentuk permainan belaka.

Dari beragamnya polah dan tingkah manusia di jagat fana. Semar melampaui identitas-identitas dari asumsi pikiran-pikiran manusia: keyakinan reliji, etnisitas, ideologi, atribut-atribut dan jabatan-jabatan serta semua kemajemukan yang bersandar atas nama-nama itu.

Segala yang melekat dalam diri kembali ke asal. Kekosongan berhulu pada keketiadaan yang berarti kekekalan. Hidup sejatinya bermuatan mati, Sangkan Paraning Dumadi.

Semar ingin menyampaikan ujaran yang cukup mengena bahwa ia adalah manusia sekaligus sosok berenergi transenden, tak pernah terpikat sesuatu yang dianggap paling besar maupun hal yang paling sepele dalam perspektif hidup manusia.

Ia senyatanya diatas warna-warna terang, gelap, abu-abu dan lain-lain. Semata Semar hidup sejengkal di dunia, kemudian sirna menjemput kesejatian dalam perjalanan pendek menuju ke kematian.

Dengan semar, yang kita kaitkan pada konsep universal tentang vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan, maka Semar seperti dalam ilustrasi lukisan Sohieb di esai ini, bahwa menerjemahkan kekuasaan yang diwujudkan oleh sebuah kursi ada di ujung jari telunjuk Sang Semar.

Yang posisi Semar nampak sangat rileks, digambarkan sedang merebahkan diri di sebuah balai-balai. Seakan ia abai pada sekelilingnya dengan tangan kiri menyedot sebotol susu. Semar juga perwujudan anak-anak, apa adanya, jujur sekaligus naif.

Dengan karakter itu, Semar sungguh tak berambisi melengserkan kekuasaan atau sebaliknya menjadi king maker. Ia hanya bertutur jelas bahwa baginya kekuasaan adalah remeh temeh.

Ekspresi mukanya tersenyum menikmati, ia ingin berpesan bahwa mereka yang berambisi menjadi pemimpin hendaklah mendengar dan memahami hidup wong cilik. Bukan janji-janji dalam kampanye politik kemudian dikhianati. 

Rakyat yang bermanifestasi menjadi Semar akan dengan mudah melengserkan kekuasaan seseorang jika ia mau. Tuhan dan rakyat menyebadan dalam sosok Semar dalam versi ilustrasi lukisan tersebut.

Dan kita bersama menjadi saksi, mungkin para pemimpin itu, mereka yang menguasai kekuasaan politik, serta sesiapa saja yang berkecukupan memiliki aset dalam ilmu pengetahuan serta mengontrol teknologi informasi, sejenak mengaca fenomena Semar dalam dirinya. Akankah Bumi yang kita pijak ini dan Indonesia tentunya, segera akan berakhir?



Close Ads X