Bentara Yogyakarta Gelar Pameran Perupa Perempuan

Kompas.com - 20/04/2018, 08:18 WIB
ilustrasi Dok. Bentara Budaya Yogyakartailustrasi
Penulis Jodhi Yudono
|


JAKARTA, KOMPAS.com--Sabtu 21 April Bentara Budaya Yogyakarta  menggelar Pameran Seni Rupa Kelompok Bumbon PENGILON mulai pukul 19.30 WIB. Pameran berlangsung 22 – 29 April 2018 pukul 09.00 – 21.00 WIB.

Peserta pameran: Theresia Agustina Sitompul, Agustina "tina" Tri Wahyuningsih, Wahyu 'Adin' Wiedyardini, Dona Prawita Arissuta, G. Prima Puspita Sari, Nadiyah Tunnikmah, Caroline Rika Winata, Trien "iien" Afriza, Ayu Arista Murti, Utin Rini Anggraini, Roeayyah Diana P., Sari Handayani

Projek Bumbon yang ke #4 iniadalah upaya mencari makna perjalanan hidup (entah sebagai ibu, istri,dan pekerja) dengan merefleksikannya melalui cermin: benda yang sederhana secara bentuk dan fungsinya.

Cermin selalu melekat dengan keseharian perempuan. Setiap hari, entah berapa kali cermin ditatap, karena tidak semua bagian tubuh kita dapat terlihat dengan mata sendiri.

Setiap orang memerlukan cermin untuk melihatnya secara utuh. Cermin menampakkan diri kita apa adanya. Saat kita tersenyum, menangis, atau tertawa cermin akan memantulkan dengan jujur, tampak dengan jelas apa pun yang ada di diri kita, begitu tampak transparan.

Semua memori di masa lalu seakan tiba-tiba muncul di depan kita, saat kita kecil, remaja, dewasa dan  menjadi seorang ibu. Seolah-olah refleksi diri itu hadir.

Bercermin tidak melulu berhadapan dengan benda cermin, lewat orang-orang di sekitar, kita bisa mengetahui bagaimana diri kita, mereka menilai, entah positif atau negatif dan kita harus menerimanya.  

Aktivitas bercermin dekat dengan proses pendefinisian diri atau menyusun diri. Gambar diri atau sesuatu yang terpantul di dalam cermin memberikan makna atau citra dari diri seseorang.

Diri dalam cermin tidak saja identifikasi fisikal tapi ‘gambar’ atau imaginasi dalam arti kemampuan dari orang bercermin menghadirkan arti dari gambar dan makna. Imaginasi bukan hayalan dalam arti sehari-hari: sesuatu yang yang ngelantur, tetapi imaginasi adalah masuknya gambar dan citra yang jelas dalam daya (kekuatan) imaginasi manusia yang memiliki kekuatan seperti kekuatan berfikir. Dan faktanya, tidak ada seorang pun yang lepas dari imajinasi.

Fase cermin seringkali disebut fase imaginer,tetapi biasanya didahului oleh tahap ‘keakuan’ atau narsisme dalam proses identifikasi diri manusia, dan ini fase awal. Fase ini akan terus berlanjut sampai pada tahapan kemampuan menangkap, menyerap makna dan citra sehingga seseorang mulai menemukan tahapan dari kehidupannya yang semakin kompleks. Ketika seseorang dikepung oleh penilaian orang di sekitarnya terhadap dirinya sehingga cerminan dari orang lain ini tak terhindarkan membentuk persepsinya tentang dirinya, ini tahap yang kompleks sampai seterusnya. (Bumbon)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Budaya
Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Seleb
Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Musik
Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

BrandzView
komentar di artikel lainnya
Close Ads X