Dari Kelompok Pengajian, Ustadz Jamming Menuju Panggung IIMF 2018 - Kompas.com

Dari Kelompok Pengajian, Ustadz Jamming Menuju Panggung IIMF 2018

Kompas.com - 09/06/2018, 04:41 WIB
Suasana jumpa pers International Indie Music Festival di kantor Deteksi Production, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018).KOMPAS.com/IRFAN MAULLANA Suasana jumpa pers International Indie Music Festival di kantor Deteksi Production, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ustadz Jamming namanya, grup band ini menjadi salah satu penampil yang dijadwal bakal meramaikan pergelaran Internasional Indie Music Festival (IIMF). 

Pertunjukan ini akan berlangsung di Pekan Raya Indonesia yang akan berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, 27 September-7 Oktober 2018 mendatang.

Menurut vokalis Ustadz Jamming, Deddy Lisan, personel grup band ini terdiri dari musisi yang sudah tak asing lagi di industri musik Tanah Air. Mereka dikenal sebagai personel band-band kenamaan Indonesia.

"Isiniya buka sembarang orang. Ada saya dari Andra & The Backbone, lalu rekan saya Uchie Wibby (vokal), pemain bass-nya ada Ivanka 'Slank', gitarisnya Edie Kemput (Grassrock), terus pemain drumnya Yaya Moektio (mantan pemain drum God Bless), penata musiknya Didit Saad, dan Achi Hardjakusumah sebagai pemain string," kata Deddy dalam jumpa pers IIMF di kantor Deteksi Production, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018).

Deddy bercerita bahwa grup band Ustadz Jamming terbentuk dari kelompok pengajian yang biasa mereka hadiri. Di tengah kegiatan siraman rohani, para musisi ini tetap berbagi pengalaman bermusik mereka hingga pada suatu kesempatan bersepakat untuk membentuk Ustadz Jamming.

Baca juga: International Indie Music Festival Bakal Digelar Selama 11 Hari di PRI

"Kami semua dari kelompok pengajian yang sama, kami sama-sama punya minat di musik. Itu yang menjadi latar belakang terbentuknya Ustadz Jamming," kata Deddy.

Pada pergelaran IIMF 2018 nanti, Ustadz Jamming mendapat kesempatan untuk mengenalkan diri sekaligus memainkan singel pertama mereka, "Hingga Waktu", yang dicipta Didit Saad.

"Lagu ini pasti akan dibawakan nanti. Liriknya bercerita tentang kerinduan manusia kepada khaliknya," ujar Deddy.

Sebagai informasi, IIMF 2018 akan melibatkan sekitar 30 band atau musisi indie yang berasal dari berbagai negara. Di antaranya ada musisi yang berasal dari Perancis, Italia, Belanda, Amerika, Kolombia, Jepang, Singapura, Malaysia serta beberapa negara lainnya. Para musisi internasional itu datang dengan genre musiknya yang beragam.

"Mereka ini nantinya akan berkolaborasi dengan musisi indie dari Indonesia. Kolaborasinya bermacam-macam, bisa melahirkan singel atau dalam bentuk kolaborasi musikal," kata CEO Deteksi Production Harry Koko Santoso selaku promotor.

Melalui kegiatan bermusik semacam ini, Koko berharap akan terjadi kesepahaman dan kebersamaan untuk tumbuh bersama dalam komunitas musik global.

"Jadi tidak hanya dominan salah satunya saja, melainkan terjadinya saling memberi dalam level yang lebih global," katanya berfilosofi.

Secara keseluruhan, pertunjukan IIMF 2018 ini akan menampilkan 107 band. Dari musisi indie lokal yang bakal tampil di acara ini akan tampil ada Efek Rumah Kaca, Sore, Grass Rock, Barasuara, Payung Teduh, Bangkutaman, Mocca, Endah N Rhesa, White Shoes & The Couples Company, hingga Fourtwnty.

"Di luar nama-nama band indie yang sudah terkenal itu, kita juga menampilkan musisi-musisi indie dari mulai Aceh sampai Papua. Mereka nantinya tampil di tiga panggung yang akan kami siapkan," jelas pria yang membidani lahirnya festival musik Soundrenaline ini.


Close Ads X