Film Crazy Rich Asians Patahkan Citra Klise Orang-orang Asia di AS

Kompas.com - 26/08/2018, 14:11 WIB
Henry Golding (kiri) dan Constance Wu, para bintang film Crazy Rich Asians. Dok Entertainment WeeklyHenry Golding (kiri) dan Constance Wu, para bintang film Crazy Rich Asians.
Editor Ati Kamil

NEW YORK, KOMPAS.com -- Crazy Rich Asians (2018), film komedi romantik yang disutradarai oleh Jon Chu dari AS, menyajikan dunia orang-orang kaya yang cantik dan tampan.

Dengan latar belakang Singapura, yang eksotis sekaligus ultra-modern, film ini menyuguhkan dongeng masa kini dan membuat orang-orang Asia bangga.

Namun, yang benar-benar membedakan film ini dari film-film lain adalah upaya film ini untuk tidak menampilkan artis-artis peran Asia dalam stereotip yang acapkali digambarkan oleh media.

Baca juga: Popcon Asia 2018 Akan Hadirkan Animasi hingga Film Gundala

Film ini dibikin berdasarkan buku Kevin Kwan yang berjudul sama dan dimulai dengan cerita pasangan muda Asia di New York, AS.

Rachel Chu, diperankan oleh Constance Wu, merupakan profesor ilmu ekonomi di New York University. Nick Young, yang dimainkan oleh Henry Golding, berasal dari Singapura.

Setelah berpacaran selama lebih dari setahun, pasangan itu mulai serius. Namun, mereka masih belum beranjak ke pernikahan.

Baca juga: EXO dan Red Velvet Akan Goyang Busan One Asia Festival 2018

Nick Young mengundang Rachel Chu ikut ke acara pernikahan sahabatnya di Singapura. Nick berencana mengenalkan Rachel kepada keluarganya.

Constance Wu mengatakan bahwa film ini tidak menyuguhkan citra klise orang-orang Asia, sebagai minoritas yang terpinggirkan di AS.

"Acapkali Hollywood berpendapat bahwa orang-orang Asia itu memiliki citra tunggal. Seakan tidak ada perbedaan antara warga Asia sebenarnya dengan warga Amerika keturunan Asia. Atau dengan warga Inggris keturunan Asia, atau dengan warga Australia keturunan Asia. Padahal, ada perbedaan besar di sana! Karena, ada budaya yang berbeda. Film ini berusaha memperlihatkan perbedaan dan ini jarang terjadi," ungkapnya.

Baca juga: Di Puncak Box Office AS Ada Hotel Transylvania 3

Pesan film ini dan sinematografinya yang mewah tampaknya berhasil. Crazy Rich Asians mencatat rekor dalam penjualan tiket, sehingga memberi harapan bahwa artis-artis peran Asia akhirnya bisa menjadi bagian dari Hollywood.

Akhir minggu lalu (19/8/2018) waktu setempat tercatat bahwa Crazy Rich Asians meraup kira-kira 25,2 juta dollar AS dari 3.384 tempat pemutaran film tersebut di AS selama akhir minggu lalu itu.

Baca juga: A Quiet Place Kalahkan Ready Player One di Box Office

Film tersebut telah mengantongi 34 juta dollar AS sejak diputar pada Rabu (15/8/2018) waktu setempat di AS, jauh melebihi perkiraan.

Pada box office AS akhir minggu itu, Crazy Rich Asians menggeser film laga Mile 22 dari puncak ke posisi kedua.

Itu merupakan keberhasilan besar bagi film produksi Warner Bros., yang dibuat dengan biaya 30 juta dollar AS.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X