Gugatan Ditolak, Penulis Cerita Asli Benyamin Biang Kerok Akan Naik Banding

Kompas.com - 29/08/2018, 18:55 WIB
Syamsul Fuad, penulis cerita Benyamin Biang Kerok, di sela menunggu jadwal sidang perkara kasus dugaam pelanggaram hak cipta film tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGSyamsul Fuad, penulis cerita Benyamin Biang Kerok, di sela menunggu jadwal sidang perkara kasus dugaam pelanggaram hak cipta film tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Syamsul Fuad, penulis cerita asli Benyamin biang Kerok (1972), akan mengajukan kasasi atau naik banding atas putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap gugatannya.

Sebelumnya, Syamsul menuding Falcon Pictures dan Max Pictures melanggar hak cipta atas cerita  Benyamin Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung. Dua rumah produksi itu yang membuat film Benyamin Biang Kerok besutan sutradara Hanung Bramantyo.

"Kami kemungkinan akan kasasi. Kami berpendapat apa yang kami pertimbangkan di pengadilan tingkat pertama masih relevan untuk diajukan kasasi ke Mahkamah Agung," kata kuasa hukum Syamsul, Bakhtiar Yusuf, di PN Jakarta Pusat, Rabu (29/8/2018).

Bakhtiar menegaskan selama ini yang mereka permasalahkan adalah tentang hak cipta cerita, bukan hak atas film Benyamin Biang Kerok. Sementara menurut dia, majelis hakim lebih fokus ke perkara hak atas film sehingga menganggap PT Layar Cipta Karya Mas Film perlu dilibatkan.

Perusahaan tersebut merupakan pemilik terakhir film Benyamin Biang Kerok sebelum dijual ke Falcon Pictures dan Max Pictures.

Baca juga: Hakim Tolak Gugatan Penulis Cerita Asli Benyamin Biang Kerok

"Bagi kami ini dua hal yang berbeda. Kan beda, masing-masing pihak berpendapatnya. Kami tetap menghormati apa yang majelis sampaikan, tapi kami tetap berpendirian dari awal seperti itu. Bagi kami ada unsur modifikasi dari cerita awal yang tahun 1972," ujar Bakhtiar.

Mereka bahkan berencana meminta bantuan Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (Ditjen HAKI) untuk menguatkan proses naik banding nanti.

"Kami memandang bahwa kami merasa perlu pihak yang paling berkompeten dalam menilai hal ini karena kami juga berkepentingan untuk mendapatkan bukti baru untuk proses PK nanti, kalau misalnya proses di ini (pengadilan) bakal panjang," kata Bakhtiar.

Sebelumnya diberitakan, Syamsul menuntut ganti rugi materiil sebesar Rp 1 miliar untuk harga penjualan hak cipta film Benyamin Biang Kerok yang tayang 1 Maret 2018 lalu. Selain itu, Syamsul meminta royalti penjualan tiket film tersebut senilai Rp 1.000 per tiket.

Tak berhenti di situ, ia pun menggugat para tergugat untuk membayar ganti rugi immateril sebesar Rp 10 miliar yang mencakup kerugigan akan hak moralnya sebagai pencipta atau pemegang hak cipta ceritaBenyamin Biang Kerok.

Terakhir, Syamsul meminta para tergugat melakukan permohonan maaf kepadanya dan klarifikasi melalui media massa terhadap masyarakat atas pelanggaran hak cipta tersebut.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X