Eksperimen Arief Malinmudo lewat Film Berlatar Budaya - Kompas.com

Eksperimen Arief Malinmudo lewat Film Berlatar Budaya

Kompas.com - 16/09/2018, 10:36 WIB
Sutradara muda Arief Malinmudo usai jumpa pers film Liam dan Laila di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (12/9/2018). KOMPAS.com/Andika Aditia Sutradara muda Arief Malinmudo usai jumpa pers film Liam dan Laila di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (12/9/2018).

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Sutradara muda Arief Malinmudo kembali membuat film berlatar kebudayaan, yakni Liam dan Laila. Seperti film pertamanya Surak Dan Silek, Arief kembali mengangkat budaya Minang sebagai latar cerita.

Film ini bercerita tentang pemuda Prancis bernama Liam yang diperankan Jonatan Cerrada dan gadis Minang bernama Laila yang diperankan Nirina Zubir. Mereka saling jatuh hati, namun terhalang oleh tembok peraturan adat yang kaku.

Arief mengaku bahwa film ini merupakan pertaruhan tentang bagaimana menangkap realita di masyarakat dari kacamata budaya Minang.

“Saya belajar mencoba bagaimana meng-capture dinamika sosial masyarakat Indonesia secara umum melalui representasi budaya Minangkabau,” ucap Arief ketika ditemui usai jumpa pers film Liam dan Laila di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Arief mencoba menerapkan semua yang ia baca dan lihat dalam film Liam dan Laila, salah satunya dengan mengambil pemeran dari negara berbeda sebagai tokoh utama dalam film tersebut.

“Jadi ada kompleksitas baru, saya bekerja sama dengan orang baru dari beda negara yang belum pernah main film, itu tantangan saya, bagaimana saya berproses kreatif dengan karakter Liam tersebut,” ucap Arief.

Selain itu, Arief juga memberikan sentuhan yang mendalam terhadap karakter Laila. Menurut Arief, ia sampai meriset seluruh film yang dimainkan oleh Nirina, agar tak ada pengulangan karakter dalam film ini.

“Jadi ketika si tokoh itu bisa melebur dengan yang ia mainkan maka akan terpancar karakter tokoh tersebut. Jadi bukan hanya Nirina yang dipakaikan pakaian minang, jadi bisa menampilkan bagaimana perempuan Minang menghargai perbedaan,” ungkap sutradara berusia 27 tahun ini.

Untuk memperkuat karakter, Arief juga memasukkan filosofi perempuan Minang terhadap karakter Laila.

“Ketika dia menginjak semut, semut itu tidak mati, ketika dia tersandung sebuah kayu, kayu tersebut bisa terbelah tiga', jadi karakter itulah yang saya tanamkan pada Laila,” kata Arief.

Arief menambahkan bahwa film-film berlatar budaya yang telah ia buat merupakan sebuah dedikasi agar karya yang dibuat bisa bermanfaat bagi banyak orang.

“Agar karya saya bisa dibaca interdisiplin ilmu, interculture, itu bisa dikaji, semoga sebagai tontonan itu bisa menarik, dalam ranah kajian bisa ke ranah akademik, ke ranah politik dan ranah ideologi,” ucap Arief.

“Saya pun menulis skenario tidak hanya full imajinatif, tapi ada pijakan riset yang kuat,” imbuh Arief.

Baca juga: Main Film Liam Dan Laila, David Chalik Jadi Lancar Berbahasa Minang



Close Ads X