Hari Ini dalam Sejarah: Festival Film Bergengsi Dunia Dimulai di Cannes

Kompas.com - 20/09/2018, 12:08 WIB
Logo Palme DOr tertampang di layar pada konferensi pers film I, Daniel Blake di Festival Film Cannes di Kota Cannes, Perancis, Jumat (13/5/2016). ANNE-CHRISTINE POUJOULAT / AFPLogo Palme DOr tertampang di layar pada konferensi pers film I, Daniel Blake di Festival Film Cannes di Kota Cannes, Perancis, Jumat (13/5/2016).

KOMPAS.com - Hari ini 72 tahun yang lalu, tepatnya pada 20 September 1946, diadakan festifal film paling bergengsi di dunia. Festifal ini resmi diselenggarakan pada sebuah resort terkenal yang berada di Cannes, Perancis.

Pada awalnya, festifal ini akan dilaksanakan pada bulan September 1939, namun karena pecahnya Perang Dunia II memaksa acara bergengsi ini diundur. Berkat luasnya pemberitaan media, festival ini makin populer dan sebagai ajang pengusaha film maupun pemainnya untuk mempromosikan karyanya ke seluruh dunia.

Akhirnya hadirnya acara ini sebagai pembuktian kualitas perfilman dari berbagai negara.

Dicemari fasisme

Festival film internasional kali pertama dilaksanakan di Venesia pada 1932. Pada ajang itu, berbagai industri film dunia mencoba memperkenalkan karya film terbaiknya kepada semua orang.

Namun, semakin besarnya rezim fasisme di Italia berimbas pada industri film. Pada 1938, festival film itu menjadi kendaraan untuk propaganda fasisme dan Nazi.

Bennito Musollini dan Adolf Hitler tampil sebagai dalang dari propaganda ini. Doktrin-doktrin fasis menjadi "bumbu penyedap" acara ini.

Karena berbau fasis, hadiah dan penghargaan juga dilakukan oleh kedua negara tersebut. Perancis akhirnya membuat inisiatif untuk membuat festifal sendiri karena menilai acara tersebut sudah dicemari propaganda politik.

Baca juga: 10 Film Indonesia Dipromosikan di Cannes

Perancis merencanakan acara tersebut pada 1 hingga 20 September 1939. Kota Cannes yang dinilai elegan dengan pemandangan pantainya menjadi lokasai yang dipilih. Selain itu, salah satu kasino kota tersebut merespons baik pelaksanaan acara itu.

Berbagai film dipilih, dengan sutradara dan produser mulai berdatangan pada pertengahan Agustus untuk menyiapkan acara tersebut.

Amerika Serikat menampilkan filmnya The Wizard of Oz (1939), Perancis dengan The Nigerian (1939), dan Polandia dengan The Black Diamond (1939). Sedangkan Uni Soviet menampilkan Tomorrow, It’s War (1939).

Mundur karena serangan

Pada 1 September 1939, hari ketika festival dimulai, Hitler menyerbu Polandia. Di Paris, pemerintah Prancis memerintahkan mobilisasi umum untuk menyelamatkan berbagai fasilitas dan penduduk.

Festival Cannes akhirnya dibatalkan setelah pemutaran satu film saja. Sutradara dan produser film akhirnya kembali ke negaranya setelah ada intruksi dari Pemerintah Perancis. Dua hari kemudian, Perancis dan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman.

Ketika terjadi perang, festival ini vakum dan tak diselenggarakan demi alasan keamanan. Pada 1946, Pemerintah Perancis menyetujui kebangkitan Festival Cannes sebagai sarana memikat wisatawan kembali.

Baca juga: Noktah Kecil Film Indonesia di Cannes

Festival dimulai pada 20 September 1946 dan 18 negara diwakili. Pada festival ini, penyelenggara lebih menekankan pada kreativitas produksi, ketimbang kompetisi. Sembilan film mendapat penghargaan tertinggi yaitu Grand Prix du Festival.

Setelah penyelenggaraan itu, akhirnya dilakukan berangsur-angsur tiap tahunnya. Pada 1948 dan 1950, festival dibatalkan karena alasan ekonomi.

Penghargaan paling bergengsi yang diberikan dalam acara ini adalah Palem Emas (Palme d'Or) yang diperkenalkan pada 1955, untuk film terbaik. Sedangkan untuk penghargaan bergengsi kedua adalah Grand Prize.

Dari tahun ke tahun acara ini semakin ramai dan mendapatkan prioritas dalam festival film dunia. Sampai saat ini, Amerika masih dalam posisi pertama untuk pemenang Palem Emas disusul Italia dan Inggris.

Kompas TV Sutradara film Kartini Hanung Bramantyo dan aktris Nova Eliza turut hadir dalam pemutaran film tersebut.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X