I La Galigo Dipentaskan Kembali

Kompas.com - 27/04/2019, 09:51 WIB
Pementasan I La Galigo Dok. I La GaligoPementasan I La Galigo
Penulis Jodhi Yudono
|


JAKARTA, KOMPAS.com--Berlayar merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi dan kebudayaan orang Sulawesi Selatan.

Kegiatan maritim ini bukan hanya terabadikan dalam lagu anak “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”, tetapi bahkan sudah dituliskan sejak abad 14 dalam Sureq Galigo.

Diceritakan bagaimana tokoh utamanya, Sawerigading, berlayar bukan hanya di sekeliling Nusantara bahkan sampai ke negeri Tiongkok untuk mempersunting seorang puteri, bernama: We Cudaiq. Bukankah hal ini menjadi indikasi bahwa orang Sulawesi Selatan sudah berlayar untuk merantau sejak zaman dahulu?

I La Galigo yang pada 3, 5, 6, dan 7 Juli 2019 akan dipentaskan di Ciputra Artpreneur juga merupakan sebuah karya yang sudah berlayar jauh, sejak world premiere-nya di Esplanade, Theatres on The Bay, Singapura pada tahun 2004.

Lakon yang disutradarai Robert Wilson ini sudah berlayar mengarungi setidaknya 9 negara dan 12 kota besar di dunia dengan pementasan terakhir di Nusa Dua Bali selama konferensi IMF.

Seni Budaya Indonesia

Sambutan internasional pada pementasan I La Galigo amat baik dan bahkan termasuk salah satu iconic works Robert Wilson dari berbagai karyanya selama puluhan tahun malang-melintang di panggung dunia.

Pementasan I La Galigo di Jakarta kali ini merupakan pementasan kali kedua setelah sebelumnya pada 2005 selama tiga hari melakukan pertunjukan di Teater Tanah Air, TMII.

Dengan jarak kurun waktu yang sedemikian jauh, amat penting agar I La Galigo kembali diperkenalkan pada generasi baru Indonesia terutama yang berdomisili di Jakarta. Apalagi sekarang mulai marak berbagai pementasan luar negeri naik panggung di Jakarta.

Sekadar mengingatkan bahwa ada pementasan Indonesia berkelas dunia dengan konsep cerita berdasarkan sebuah kitab kuno dari Bugis abad 14. Sureq Galigo  bukan hanya sekadar kitab kuno, melainkan sebuah ‘cerita’ yang telah diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO.

Secara langsung maupun tidak langsung, pertunjukan ini merupakan bentuk usaha pelestarian budaya Indonesia yang dapat membuka wawasan masyarakat modern sehingga akan tahu-sadar-ingat budaya yang akan menjadi salah satu rujukan untuk menghargai persamaan sekaligus mampu bertoleransi terhadap perbedaan. Selain itu tidak menutup kemungkinan akan mendorong keingintahuan masyarakat untuk lebih dalam menggali dan mempelajari naskah kuno yang belum sepenuhnya terungkap ini.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X