Heri Dono Mengembalikan Eksistensi Seniman

Kompas.com - 06/05/2019, 20:48 WIB
Aksi seni performance perupa Heri Dono, berupa orasi budaya pada sekelompok kambing di Galeri Nasional (2010).  Karena manusia-manusia sudah tidak ada yang peduli pada  harkat kemanusiaannya sendiri. Foto: Usman Iskandar Dok Usman IskandarAksi seni performance perupa Heri Dono, berupa orasi budaya pada sekelompok kambing di Galeri Nasional (2010). Karena manusia-manusia sudah tidak ada yang peduli pada harkat kemanusiaannya sendiri. Foto: Usman Iskandar

Soal hobinya menggambar sejak SD, Heri bercerita, untuk pelajaran menggambar, dari SD sampai SMA, rapor Heri selalu merah. Karena, ia tak pernah menggambar sesuai dengan perintah gurunya.
 
Meski mendapat nilai merah, sejak SMA ia sudah mulai berpameran. Ia juga membuat patung. Ketika masih kuliah, Heri sudah ikut pameran, antara lain di Monumen Pers Solo dan di Parangtritis, Yogyakarta.

Kembali ke eksistensi seniman, menurut Heri, seniman harusnya melengkapi dirinya tak hanya soal kemampuan seni rupa, tapi juga paham sastra dan teknbnologi. Sebab menurut Heri, dalam terminologi Yunani, kesenian itu identik dengan teknologi.  

"Demikianlah seharusnya seniman itu. Selain menguasai seni rupa, dia juga harus paham susastra, politik, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya," ujar Heri di sela kesibukannya mengawal beberapa karyanya yang ikut dipamerkan dalam acara Art Moment Jakarta 2019 yang berlangsung di Hotel Sheraton Gandaraia City, 3 hingga 5 Mei 2019.

Dimintai pendapatnya tentang acara Art Moments, Heri berkomentar, "Acara ini menjadi penting, karena mempertemukan semua elemen seni rupa. Di sini berkumpul para perupa, galeri, kurator, dan juga kolektor, sehingga bisa terjalin komunikasi yang saling menguntungkan antar pihak. Indonesia bisa menyelenggarakan momen besar, padahal dulu kita hanya sebagai penggembira saja."

Heri Dono kerap menyebut dirinya sebagai seniman borongan, sebab dia melukis, membuat patung, membuat wayang, dan seni instalasi. Kalau sedang jenuh melukis, pengagum pelukis Affandi dan Sujarna Kerton ini menginstalasi; kalau jenuh dengan seni instalasi, ia menulis konsep pertunjukan seni rupa. Dengan nada bercanda, ia mengategorikan aliran karyanya sebagai “aliran sesat seni rupa”.

Tapi fakta menunjukkan, Heri Dono adalah perupa Indonesia yang menonjol saat ini. Anak kelima dari tujuh bersaudara ini melewatkan masa kanak-kanaknya di Jakarta. Ia bukan dari keluarga seniman. “Saya menjadi seniman lebih banyak terbentuk oleh lingkungan,” kata Heri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.