Beranda Sastra #15: Jangan Terjebak Tema yang Itu-itu Saja

Kompas.com - 13/05/2019, 11:19 WIB
Bentara Budaya Jakarta dengan latar belakang gedung Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Kamis (28/3/2019). KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOBentara Budaya Jakarta dengan latar belakang gedung Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Kamis (28/3/2019).
Penulis Ati Kamil
|
Editor Ati Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Bentara Budaya Jakarta (BBJ) bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) akan menyajikan Beranda Sastra #15 pada Kamis, 16 Mei 2019, pukul 15.30-18.00 WIB.

Bincang-bincang di BBJ, Jalan Palmerah Selatan No 17, Jakarta Pusat itu berjudul Terjebak Nostalgia/It's a Trap, Isn't It?: Penulis Muda Bicara Ragam Tema Sastra.

Untuk acara tersebut akan dihadirkan dua penulis muda. Mereka adalah Mawa Kresna dan Ruhaeni Intan. Dua-duanya jurnalis.

Baca juga: Sajak Selasa: Dari Bentara Muda hingga Pusat Dokumentasi Sastra Ambil Bagian

Mawa dan Ruhaeni akan membagi pengetahuan, pengalaman, dan proses kreatif dalam menulis fiksi tanpa terjebak dalam tema-tema favorit yang sudah ditulis oleh banyak orang lain.

Beranda Sastra #15 diadakan bersama oleh BBJ dan DKJ serangkai dengan kegiatan Jakarta International Literary Festival 2019, yang bertema "Many Faces of the South" dan akan dilangsungkan pada Agustus 2019.

Jakarta International Literary Festival 2019 berjudul "Pagar" dan mengusung semangat Selatan-Selatan, yaitu kerja sama antarnegara berkembang di seluruh dunia.

Baca juga: Rilis Buku Puisi, Prilly Latuconsina Ingin Hidupkan Sastra Anak Muda

"Pagar" dipilih karena mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia.

Pemilihan judul tersebut dirasa cocok karena sastra kini dihadapkan  dengan perdebatan lokal juga global.

Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah ketenangan rumah dari dunia luar.

Baca juga: Reda Gaudiamo Berbagi Karya Sastra

Oleh karena itu, konsep "pagar" tidak selalu terikat dengan perlintasan batas-batas geografis sastra, tetapi juga mengandung makna perawatan dan pemeliharaan sastra lokal.

Dengan "pagar", kita memisahkan kita dari dunia di luar, tetapi selalu dalam kesadaran kehadiran kita di tengah dunia.

Dalam kata lain, tetap ada kepekaan lokal dengan wawasan global.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X