Istri Sempat Mengeluh Herman Seventeen Nyanyikan Lagu Kemarin Sebelum Tsunami Banten Menerjang

Kompas.com - 29/10/2019, 18:03 WIB
Jumpa pers film dokumenter Seventeen Kemarin di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (29/10/2019). Terlihat di dalamnya Ifan Seventeen, istri Herman Seventeen Juliana Mochtar, dan Dandy Renaldo selaku produser. KOMPAS.com/ANDIKA ADITIAJumpa pers film dokumenter Seventeen Kemarin di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (29/10/2019). Terlihat di dalamnya Ifan Seventeen, istri Herman Seventeen Juliana Mochtar, dan Dandy Renaldo selaku produser.

JAKARTA, KOMPAS.com - Lagu "Kemarin" milik band Seventeen mendadak viral dan ramai diperbincangkan pasca-bencana tsunami Banten terjadi pada 22 Desember 2018 lalu.

Diketahui, tsunami Banten telah merenggut nyawa tiga personel band Seventeen dan istri Ifan Seventeen, Dylan Sahara, beserta ratusan korban lainnya.

Banyak orang merasa lagu "Kemarin" sangat pas dengan suasana duka yang menimpa Seventeen.

Juliana Mochtar, istri mendiang Herman "Seventeen", mengaku sempat memiliki firasat saat suaminya sering mendengarkan lagu gubahannya tersebut.

Ia bahkan sempat komplain kepada suaminya karena sering menyanyikan lagu itu.

Baca juga: Ingat Mendiang Istri dan Personel Seventeen, Ifan Emosional Saat Rekaman Lagu Baru

"Lagu ini (Kemarin) diputar di rumah bulan 11 (November) tepatnya almarhum di ruang tamu pun masih nyanyi lagu itu. Aku komplain kan di situ kenapa sih selalu nyanyi lagu itu," kata Juliana Mochtar dalam jumpa pers di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (29/10/2019).

Kata Juliana Mochtar, lagu itu awalnya dipersiapkan Seventeen untuk mengisi haul Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Aku suka ledekin apa sih lagu hitam putih, hitam putih, pas nanyiin lagu itu. Akhirnya pas kejadian ini (tsunami Banten) di bulan 12 (Desember) kayak tanda aja beberapa hari lagi ada kejadian ini, itu yang bikin sedih banget," ujar Juliana.

Baca juga: Kisah Band Seventeen Jadi Korban Tsunami Banten Diangkat ke Layar Lebar

Kini, lagu "Kemarin" itu dipilih menjadi judul film dokumenter drama yang mengangkat kisah band Seventeen, mulai dari sebelum dan sesudah band itu menjadi korban tsunami Banten.

Diketahui, Seventeen menjadi korban tsunami Banten saat mengisi sebuah acara gathering sebuah perusahaan di kawasan wisata Tanjung Lesung.

Dari semua personel, hanya Ifan sang vokalis yang selamat.

Baca juga: Film Dokumenter Seventeen Ungkap Banyak Momen Sebelum Tsunami Banten Melanda

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X