Film "Kucumbu Tubuh Indahku" Dihentikan Paksa, Garin Nugroho: Pemerintah Tindak Tegas Dong

Kompas.com - 13/11/2019, 12:25 WIB
Sutradara Garin Nugoho dalam jumpa pers dan screening film Kucumbu Tubuh Indahku di XXI Plaza Indonesia, Thamrin Jakarta Pusat, Senin (15/4/2019). Kompas.com/Ira GitaSutradara Garin Nugoho dalam jumpa pers dan screening film Kucumbu Tubuh Indahku di XXI Plaza Indonesia, Thamrin Jakarta Pusat, Senin (15/4/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemutaran film Kucumbu Tubuh Indahku kembali dihentikan paksa oleh sekelompok organisasi masyarakat (ormas). Kali ini, penolakan itu terjadi di Bandar Lampung.

Menanggapi hal itu, sutradara Garin Nugroho meminta pemerintah menindak tegas karena termasuk pelanggaran hukum.

"Pemerintah tindak tegas dong. Masukkan penjara yang melakukan tindakan pelanggaran hukum. Harapannya ya lakukan tindakan hukum sesuai prosedur hukum saja," kata Garin saat dihubungi Kompas.com via telepon, Rabu (13/11/2019).

Baca juga: Pemutaran Kucumbu Tubuh Indahku Dihentikan, Garin Nugroho Sebut Prestasi Dikalahkan Radikalisme

Garin kecewa pada pemerintah yang selama ini terkesan hanya berkoar-koar soal pluralisme.

"Saya cuma kecewa saja sama pemerintah yang banyak mulutnya, tapi enggak pernah bertindak keras. Selalu mengusung pluralisme, tapi tindakannya tidak ada," ucapnya.

Garin menegaskan, film Kucumbu Tubuh Indahku sudah lulus sensor. Ia menyayangkan masih ada sejumlah pihak yang melakukan penghentian paksa pemutaran film.

Sebelumnya penolakan film yang dibintangi Randy Pangalila dan Sujiwo Tedjo juga pernah terjadi di Semarang.

"Aku enggak tahu sama sekali. Kalau di Semarang mereka menutup aku meminta wali kota untuk turun tangan," lanjutnya.

Sebelumnya diberitakan, pemutaran film Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho di Bandar Lampung dihentikan secara paksa oleh salah satu ormas keagamaan, Selasa (12/11/2019) siang.

Massa anggota ormas itu datang saat pemutaran film berlangsung di Gedung Dewan Kesenian Lampung (DKL) Kompleks PKOR Way Halim, sekitar pukul 13.00 WIB.

Adapun pemutaran film tersebut digelar oleh Klub Nonton.

Ormas tersebut menilai, film yang mewakili Indonesia pada Piala Oscar 2020 itu mengandung unsur yang dikhawatirkan merusak moral generasi muda.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X