Leila S Chudori
Penulis & Wartawan

Penulis, Wartawan, Host Podcast "Coming Home with Leila Chudori"

Adi, Astrid, Namira dan Mereka yang Menemani Anak-anak Indonesia

Kompas.com - 15/09/2021, 10:04 WIB
Diskusi buku fiksi untuk anak-anak bersama Leila Chudori feat Djoko Lelono dan Rizal Iwan DOK. LEILA S CHUDORIDiskusi buku fiksi untuk anak-anak bersama Leila Chudori feat Djoko Lelono dan Rizal Iwan

Menulis cerita anak-anak yang memasukkan elemen supranatural tentu banyak rambu. "Saat saya menulis ini, banyak sekali yang saya cek, bahas dan dipertimbangkan bersama redaksi, bukan hanya soal plot tapi bahkan penggunaan diksi tertentu," kata Rizal.

Djoko Lelono juga mengakui selama puluhan tahun menulis buku anak-anak yang biasanya dia lakukan dengan santai dan mengikuti imajinasinya, pernah terkejut ketika diundang tim ACI (Aku Cinta Indonesia) di mana beberapa penulis anak--termasuk Arswendo Atmowiloto--yang diminta menulis untuk drama anak TVRI.

"Bukan hanya ada pagar biasa, bahkan ada beberapa ahli jiwa yang memberi begitu banyak rambu dalam penulisan cerita TV," kata Djoko Lelono.

Tantangan menulis buku anak-anak tentu saja bukan persoalan bahwa penulis harus mengingat pagar-pagar tertentu (bahasa, moral, jahat lawan baik dan seterusnya), tetapi lebih lagi konsumen--yaitu anak-anak--harus diberi kegairahan membaca dengan jagat yang diciptakan penulis.

Tak semua penulis mampu mengirim rasa petualangan, kegairahan, keunikan tanpa menggurui dan khotbah.

Jika kita menjenguk buku anak-anak dari negara Barat yang klasik macam Petualangan Huckleberry Finn karya Mark Twain--yang kebetulan juga diterjemahkan oleh Djoko Lelono atau katakanlah yang lebih modern seperti karya-karya Enid Blyton, kita akan menyaksikan bagaimana anak-anak itu dibiarkan berpetualang bersama kawan-kawannya.

Dunia yatim piatu, perceraian orang-tua, pencurian tetap hadir karena itu bagian dari kehidupan, dan anak-anak SD dan SMP tentu saja pada dasarnya sudah harus memahami apa yang buruk dan apa yang baik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tetapi Rizal Iwan tampaknya berhasil "lolos" dari berbagai kendala itu. Tokoh utama serialnya bernama Namira digambarkan sebagai anak yang unik karena justru menyukai tokoh-tokoh villain (jahat) dari kisah Disney, daripada tokoh putri cantik.

Ini menarik, karena dia beralasan "mereka menjadi jahat karena pasti ada kisah latar belakangnya," demikian kata Namira, tentu saja dia tahu bahwa apa yang mereka lakukan salah dan harus dihukum.

Kedua kawan Namira Vedi dan Anjani juga tak kalah menarik, sehingga serial Creepy Case Club bukan saja serial seru karena melibatkan kisah supranatural, tetapi juga karena tokoh-tokohnya yang kuat.

Di masa kini, Rizal Iwan dan Djoko Lelono mengakui betapa semakin konservatifnya masyarakat sehingga buku anak-anak yang beredar semakin pedantik dan menggurui, sehingga tak mudah membuat mereka menjadi pembaca yang akrab dengan buku. Apalagi dengan adanya internet, gadget, game, maka buku anak-anak semakin memiliki saingan berat.

Obrolan seru ini bisa Anda dengarkan di podcast "Coming Home with Leila Chudori" di Spotify dan platform lainnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.