Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita di Balik Layar Kesuksesan Film "Uang Panai"

Kompas.com - 11/03/2017, 12:19 WIB
Sintia Astarina

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com – Siapa bilang film berlatar belakang kebudayaan daerah tidak bisa bersaing dengan film-film nasional? Uang Panai' menjadi pembuktian bahwa film lokal masih mendapat tempat hangat di tengah masyarakat Indonesia.

Uang Panai' yang dirilis pada 25 Agustus 2016 lalu bercerita soal Anca (Ikram Noor), seorang lelaki Bugis yang bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Risna (Nurfadillah Naifa).

Setelah sudah lama tidak bertemu, benih-benih cinta mulai tumbuh lagi di hati mereka. Anca yang tidak ingin kehilangan Risna untuk kedua kali pun berniat untuk menjadikan perempuan itu sebagai istrinya.

Kendati begitu, niat tulusnya terhalang oleh syarat pernikahan adat di daerah asalnya. Dalam adat Makassar, pihak lelaki harus menyediakan uang panai (uang mahar) dalam jumlah yang tidak sedikit. Hal ini membuat Anca berjuang mati-matian untuk memenuhi syarat tersebut.

Di tengah perjuangannya, Anca harus menerima kenyataan kalau gadis pujaannya hendak dijodohkan dengan lelaki lain. Lantas, dirinya merasa tertekan lantaran belum bisa mengumpulkan uang panai sesuai waktu yang sudah ditentukan keluarga Risna.

Anca merasa harga dirinya sebagai putra Bugis dipertaruhkan. Tak jauh berbeda, Risna pun merasa khawatir apabila lelaki itu meninggalkannya lagi.

Film Uang Panai' yang disutradarai oleh Halim Gani Safia dan Asril Sani ini menjadi menarik karena mengangkat isu kearifan lokal.

Nurfadillah Naifa (20), yang menjadi pemeran utama dalam film ini bahkan merasakan sendiri bagaimana sulitnya mempersunting perempuan Bugis.

"Aku jadi ngerti gimana kalau cewek Bugis itu, kalau cinta tuh kayak dihalangin gitu. Banyak tantangannya. Materi aja enggak cukup. Kalau mau mempersunting (perempuan), modal harus kuat," ungkapnya ketika berbincang dengan Kompas.com di Anomali Coffee, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017).

Perempuan yang akrab disapa Dillah ini juga menambahkan, status sosial seseorang cukup mempengaruhi harga atau mahar yang harus diberikan seorang pria yang akan melamar si gadis.

"Contoh, cewek yang mau dilamar itu dokter. Harganya lebih mahal dibanding yang S1 atau yang SMA," imbuhnya.

Kendati demikian, Dillah merasa bahwa masyarakat Indonesia masih salah mengartikan soal tradisi uang panai ini.

Menurutnya, masih banyak orang yang berpikir, "Cewek-cewek Makassar tuh pada dibeli, ya? Padahal itu beda. Uang (yang diberikan) menjadi pertanda bahwa orang yang kita persunting itu bukan orang biasa," ungkapnya.

Dillah juga memberi contoh lain. Bupati Soppeng Supriansa mempersunting pasangannya pada Februari 2017 lalu dengan uang panai sebesar Rp 1 miliar. Besarnya jumlah uang panai nyatanya juga bisa menunjukkan harga diri.

"Makanya, banyak (perempuan Bugis) yang ke luar kota, soalnya yang dikejar itu," imbuh Dillah lagi.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Hongaria Umumkan Keluar dari ICC Usai Sambut Kedatangan Netanyahu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau