Ini yang Membuat "Prenjak" Menang dalam Festival Film Cannes 2016 - Kompas.com

Ini yang Membuat "Prenjak" Menang dalam Festival Film Cannes 2016

Andi Muttya Keteng Pangerang
Kompas.com - 27/05/2016, 18:30 WIB
KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG Konferensi pers film Prenjak di XXI Plaza Senayan, Jumat (27/5/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com -- Prenjak baru saja mengukir sejarah baru untuk Indonesia setelah terpilih sebagai film pendek terbaik dalam "Critic's Week Festival Film Cannes 2016". Sang sutradara, Wregas Bhanuteja, bercerita usai menerima penghargaan itu.

Kata dia, seorang juri dari Amerika Latin menghampirinya dan mengungkap alasan mengapa filmnya bisa menang dalam ajang bergengsi ini.

"Dia bilang, 'Wregas, kami ketika nonton film kamu, saat menjuri, dari awal sampai akhir kami tertawa. Kami tidak menyangka ada ini. Tiap jokes komedinya kami tertawa'," tutur Wregas dalam konferensi pers film Prenjak di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016).

"'Tapi begitu si ibu (tokoh utama) ini sampai ke rumah bayar kontrakannya dan memandikan anaknya, kami semua di situ terharu dan kami bilang, oke, it's done. Ini pemenangnya'. Para juri berkata begitu dan menetapkan kami menjadi pemenang," imbuh dia.

Sutradara muda asal Yogyakarta itu menambahkan, para juri juga menilai Prenjak menjadi film yang paling sederhana pada ajang tersebut.

Namun demikian, dalam kesederhanaannya, Prenjak memiliki bahasa sinema yang sangat puitis.

"Mereka bilang Prenjak punya metafora-metafora yang itu tidak pernah mereka bayangkan sebagai penonton di Eropa. Ada ya kejadian ini di Jawa. Bagi mereka itu sangat puitis," ucap Wregas.

Film berdurasi 12 menit itu juga dianggap sebagai black comedy oleh para juri di Cannes. Sebab, Prenjak menceritakan sebuah kisah sedih lewat lelucon sederhana.

"Mungkin kisah black comedy ini adalah hal yang sangat dekat dengan budaya saya di Yogya. Enggak pernah menganggap sebuah kesedihan sebagai sesuatu yang harus ditangisi," kata Wregas.

"Contohnya, waktu gempa di Yogya tahun 2006, tetangga saya walaupun rumah ambruk, mereka masih bisa cerita sambil ketawa. 'Iki lho delok omahku ambruk ki'."

"Mungkin karena budayanya sangat dekat dengan kami, jadi kami tanpa sadar membuat film ini mengarah ke arah begitu (black comedy)," tambahnya.

PenulisAndi Muttya Keteng Pangerang
EditorIrfan Maullana
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM