Harlah NU di Yogyakarta Tonjolkan Budaya - Kompas.com

Harlah NU di Yogyakarta Tonjolkan Budaya

Jodhi Yudono
Kompas.com - 11/04/2017, 07:50 WIB
KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj saat merilis refleksi akhir tahun di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (30/12/2016)

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Peringatan hari lahir atau harlah Nahdlatul Ulama ke 94 yang digelar pada 12-14 April 2017 di Yogyakarta akan dikemas dengan menonjolkan sejumlah pagelaran seni dan budaya.

Wakil Ketua PP Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) M Jadul Maula di Yogyakarta, Senin, mengatakan rangkaian peringatan harlah NU di Yogyakarta yang digelar bersamaan dengan peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga akan mencoba mengomunikasikan kembali hubungan budaya dan kehidupan bernegara.

"Kalau di Sidoarjo, Jawa Timur kemarin semata-mata dengan istighatsah, di Yogyakarta kami akan mencoba menyajikan dengan balutan seni dan budaya," kata Jadul.

Sejumlah pagelaran seni dan budaya yang akan dipersembahkan oleh Lesbumi NU antara lain pertunjukan wayang kulit, macapat, kirab Tirto Prawirosari, pertunjukan shadow batik, pembacaan puisi, jatilan santri, hingga pertunjukan hadroh x emprak. Deretan acara itu akan digelar di Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.

"Kami akan mengikutsertakan puluhan budayawan dan seniman tradisional dan modern di Yogyakarta," kata dia.

Menurut dia, sesuai dengan semangat untuk mempromosikan Islam Nusantara, NU memiliki kewajiban mengangkat kembali nilai-nilai budaya sebagai salah satu faktor pemersatu bangsa.

"Nilai-nilai budaya nusantara ini penting kami tonjolkan kembali untuk menghadirkan ruang-ruang perdamaian dan menghindarkan permusuhan antaranak bangsa," kata dia.

Selain pagelaran seni dan budaya, menurut dia, rangkaian harlah NU di Yogyakarta juga akan diwarnai dengan forum seminar "Mencari Jati Diri Bangsa dalam Ketatanegaraan" yang menghadirkan sejumlah pembicara seperti Mahfud MD, guru besar ilmu pemerintahan UGM Purwo Santoso, serta tausyiah kebangsaan oleh ketua PBNU Said Aqil Siradj.

Sementara itu, Jadul menjelaskan alasan digelar bersamaan dengan peringatan 500 Sunan Kalijaga karena NU dan para wali nusantara memiliki hubungan yang erat. NU, kata dia, merupakan manifestasi modern dari jaringan para ulama pesantren yang merupakan penerus ajaran "Ahlussunnah wal Jama'ah yang dasar-dasarnya diletakkan oleh para wali Nusantara, salah satunya Sunan Kalijaga. "Sunan Kalijaga termasuk figur penting dalam sejarah pembentukan karakter arif umat Islam Nusantara," kata dia.

PenulisJodhi Yudono
EditorJodhi Yudono
SumberANTARA
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM