Kartini yang Ringkih, Kartini yang Gigih - Kompas.com

Kartini yang Ringkih, Kartini yang Gigih

Bambang Asrini Widjanarko
Kompas.com - 21/04/2017, 07:05 WIB
Dok Lenny RW Sejumlah seniman perempuan menafsir Kartini lewat surat-suratnya di Gedung Tempo sepanjang April 2017.

Seniman digital

Kita beranjak ke karya seniman-seniman digital. Menjumpai sejumlah perupa digital perempuan yang mengeksplorasi Kartini dengan perlawanannya pada feodalisme, pemikiran terbuka, dan terdidik.

"Bagi saya hanya ada dua keningratan, keningratan pikiran dan keningratan budi", begitu teks yang diusung, mengacu pada surat Kartini kepada EH Zeehandelaar yang diimbuhi ilustrasi tiga perempuan membatik.

Yang lainnya, gambar dengan teknik stensil paras Kartini yang diambil dari foto Kartini tempo dulu, dengan suratnya ke Ny Ovink-Soer, "Aku akan berusaha dengan alat penaku menarik perhatian mereka yang dapat membantu kami mendatangkan perbaikan nasib wanita Jawa."

Selain itu, ada seniman lain yang memvisualkan kode-kode busana adat, seperti tusuk konde, dll. Jika kita perhatikan, akan lebih baik jika seniman-seniman digital ini membangun relasi melepas atau justru menghiperbolakan antara gambar visual dan teks.

Hasilnya, bisa mencipta ironi, misteri, atau konflik-konflik visual yang memberi kesan “ Kartini- Kartini lain”, di luar pengetahuan umum baik di sejarah dan warisan Kartini yang dikontekstualkan momennya dengan saat ini.

Tentu ini memerlukan riset surat-surat Kartini yang mendalam, biografinya, selain kepiawaian teknis mendialogkan ulang maknanya dengan simbol anyar yang bertebaran di dunia digital. '

Pada jenis instalasi yang lain, kita bersua karya yang dipaparkan seniman perempuan Lenny Ratnasari Weichert di depan gedung. Lenny menyitir ucapan Tan Malaka dalam sinopsis yang bisa dibaca pengunjung, “Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului penderitaaan-penderitaan pembawaan kelahirannya”.

Dengan visualisasi patung mungil tiga bayi yang terselubung kain menggantung di udara, di bawahnya terapung-apung di kolam tersembul teks-teks bernada muram terpotong-potong.

Bagi mereka yang awam, tentu bingung melihat panorama ini. Yang sebetulnya mudah jika kita menafsirkannya dari simbol-simbol yang tertera di sana. Karya seni ini laiknya teka-teki perlambangan, pengalaman personal, dan tentu saja: memorikolektif tentang Kartini.

Akan menjadi keasyikan tersendiri jika kita menebak-nebaknya. Lenny mungkin sedang menyuguhkan sebuah internalisasi diri sebagai seorang perempuan dengan Kartini, sesuai judul karyanya “Tiga Malam Empat Hari”.

Kartini selama tiga malam empat hari memang memenuhi panggilan kodratnya sebagai ibu, melahirkan anak yang pertama. Demikian pula Lenny merasakannya, menjadi seorang ibu.

Kata-kata Tan Malaka diasosiasikan antara proses keterpelajaran dan kesakitan saat seorang perempuan melahirkan. Buahnya adalah kebahagiaaan, atau mereka yang merasakan kepuasan menjadi orang terpelajar yang menghasilkan pikiran-pikiran yang bermanfaat.

Bedanya, di sana Lenny memintal aura kepedihan untuk empatinya pada Kartini, yang menggiring ingatan kita bahwa pejuang emansipasi itu wafat persis tiga malam empat hari setelah melahirkan pada 1904.

Teks-teks yang terserak di kolam adalah simbol keseluruhan surat-suratnya, warisannya yang pada 1911 dibukukan, kemudian diindonesiakan oleh sastrawan Armijn Pane dengan Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Kartini tak pernah merasakan popularitas, tatkala buku yang diterbitkan itu akhirnya diapresiasi luas di Eropa dan di negerinya sendiri. Bagaimanapun, Kartini sudah mendapatkan kebahagiaan spiritual, meski pendek, menjadi seorang ibu.

Seperti teks-teks yang terpotong-potong di kolam di luar gedung, di karya instalasi itu, ia ringkih menyongsong takdir. Ia telah “pergi bersama surat ini”, “menempuh jalan baru”, yang akan “menenggelamkan diri” dan “menjadi benih” dalam keabadian. 

Page:
EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X