Berkhayal dan Eksperimen, Modal Rinaldy Yunardi Rancang Aksesori Artis - Kompas.com

Berkhayal dan Eksperimen, Modal Rinaldy Yunardi Rancang Aksesori Artis

Andi Muttya Keteng Pangerang
Kompas.com - 19/06/2017, 15:32 WIB
KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG Rinaldy A Yunardi diabadikan di butiknya di Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis (15/6/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama puluhan tahun karya-karya Rinaldy A Yunardi dikenakan para pesohor Tanah Air.

Namun kini namanya mendunia setelah aksesori rancangannya dipakai oleh para pesohor dalam video clip atau pemotretan, seperti Katy Perry, Nicki Minaj, dan Zoe Saldana.

Dalam perbicangan dengan Kompas.com di butiknya di Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Rinaldy mengakui tidak memiliki pengetahuan tentang fashion ketika membuat aksesori pertamanya.

Namun dari karya pertama, sebuah tiara berbahan akrilik, keinginan Rinaldy untuk membuat rancangan yang lain semakin besar.

[Baca juga: Katy Perry Kenakan Sepatu Rancangan Desainer asal Indonesia ]

Namun ia sadar bahwa untuk mewujudkan itu ia harus bisa menuangkan idenya ke dalam bentuk sketsa terlebih dulu agar lebih mudah memproduksi.

"Saya mulai belajar menggambar, bagaimana membuat sketsa, karena saya belum pernah. Beli buku (tutorial)," katanya.

Bermodalkan bahan-bahan seadanya dan kemampuan menggambar yang masih mentah, Rinaldy memulai kesibukan barunya.

Setelah pulang kantor, ia "bermain" dengan kawat, kristal, pelat, batu alam, payet, lem, dan cat semprot.

Rinaldy juga mulai berani menawarkan karyanya ke sejumlah perancang dan rumah bridal.

[Baca juga: Nicki Minaj Kenakan Topeng Karya Desainer Indonesia ]

"Saya dengan gembolan naik ojek cari bahan keliling di Pasar Baroe, kirim pesanan. Ketemu desainer dan menawarkan produk saya. Terus berkembang permintaan makin banyak akhirnya saya butuh pekerja. Tapi saya tetap bantu kakak saya," kata Rinaldy.

Sampai suatu hari, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Antara tetap bekerja kantoran, tetapi tak punya hasrat di sana. Atau beralih jadi perancang dengan segala konsekuensinya.

"Itu suatu keputusan berat yang saya ambil. Apakah ini akan jadi karier saya ke depannya. Kalau gagal kan malu," kata Rinaldy.

"Tapi saya berpikir, dulu biasanya pulang kerja saya main sampai malam. Tapi ketika ada bidang baru ini, saya mengurangi, saya rela meninggalkan kebiasaan itu, rela bekerja sendiri, gambar sendiri," ucapnya lagi.

Pada akhirnya, Rinaldy keluar dari pekerjaannya dan memilih fokus ke dunia mode.

"Rasa penasaran, suka bereksperimen, suka berpikir dan berkhayal sampai hari ini jadi modal dasar saya. Keisengan saya, ini kan dari iseng, akhirnya muncullah namanya desainer aksesoris Rinaldy," ujarnya.

KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG Salah satu karya Rinaldy A Yunardi diabadikan di butiknya di Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis (15/6/2017).
Pertahankan handmade

Rinaldy mengatakan, ia memang tak punya latar belakang pendidikan desain seperti perancang kebanyakan. Ilmu dasarnya hanya tentang marketing dan pembukuan. Namun justru di situlah letak keberuntungannya.

Beberapa tahun menjadi sales, Rinaldy belajar satu hal yang menjadi modal dasarnya selain imajinasi, yakni kesabaran.

"Belajar sabar itu yang tetap saya pertahankan sampai hari ini. Harus sabarlah namanya (bekerja di bidang) jasa. Mengenal pembukuan juga, itulah modalnya. Ada pengalaman baik untuk saya pergunakan hingga hari ini," kata Rinaldy.

[Baca juga: Bintang Avatar Ini Kenakan Aksesori Karya Perancang Indonesia]

Rasa sabar sangat ia butuhkan sebagai perancang aksesoris yang mengutamakan detail lewat pekerjaan tangan alias handmade.

Sebab Rinaldy harus duduk selama berjam-jam setiap hari selama berminggu-minggu untuk mengerjakan karyanya. Memotong, mengukir, membengkokkan bahan, mengelem, menyemprot cat, itu semua butuh sabar.

"Dari awal handmade sampai hari ini handmade. Ada alat, tetapi dengan tenaga ya, bukan robotic mesin atau 3D," katanya.

Sejak 21 tahun lalu sampai sekarang, ia menolak segala bentuk penggunaan mesin untuk memproduksi karya secara massal.

Menurut Rinaldy, membuat rancangan dengan tangan sama saja dengan memberi nyawa kepada karyanya itu.

[Baca juga: Rinaldy A Yunardi, Desainer Indonesia di Balik Boots Katy Perry ]

"Memang kalah untuk waktu produksi, tapi saya tidak bikin mass product, tapi made by order. Nilai seninya lebih tinggi. ada kesabaran, pandangan keindahan, dan ketelitian di situ. Kalau mesin kan satu orang aja deh bisa keluar ribuan, lebih efektif tapi enggak enak," katanya.

Justru detail yang tak sama persis pada setiap karyanya itulah nilai seninya. Rancangan yang terlalu seragam, yang tiap inci ukurannya sama, baginya hanya barang yang tak bernyawa.

"Jadi saya sampai hari ini tetap mempertahankan handmade karena mempunyai nilai lebih. Bentuknya beda itulah nilai handmade yang saya pertahankan. Ciri khas saya itu handmade, detailed, sophisticated, menggabungkan beberapa macam bahan. Saya selalu memberikan arti dalam karya saya agar dia punya nyawa sendiri," ujar Rinaldy.

PenulisAndi Muttya Keteng Pangerang
EditorKistyarini
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM