Wawancara dengan Yockie 2: Sejak Keluar, Tak Ada Sepeser Pun dari God Bless

Kompas.com - 25/10/2011, 11:56 WIB
EditorAti Kamil

Sudah, saya sudah menginventarisasi lagu-lagu saya. Tidak hanya sewaktu di God Bless saja, di (perusahaan rekaman) Musica (Studios) pun saya melakukannya, supaya lagu-lagu saya tertata dengan baik. Begitu pula lagu "Kesaksian" di Kantata. Sewaktu Hanung Bramantyo memakai lagu Kantata di film, saya langsung tegur dia, "Kenapa kamu enggak minta izin!" Gara-gara ini ada sedikit kesalahpahaman di Kantata. Padahal, semua bermuara di Hanung. Sebagai produser semestinya dia tahu etika, di lagu itu ada saya, ada Iwan Fals, ada Sawung Jabo. Tapi, kenapa Hanung minta izin ke Setiawan Djody. Ini masalah hak cipta, tapi dia keukeuh seperti itu, ini yang membuat saya kesal juga ke Hanung.

Masalah seperti ini kan harus kita hadapi. Bukan untuk tarik urat leher, tapi untuk diselesaikan baik-baik, gitu lho. Tapi, kalau enggak bisa secara baik-baik, ya harus secara hukum.

Apakah selama ini Anda mencicipi royalti lagu ciptaan Anda dari rekaman dan panggung God Bless?

Enggak ada, sepeser pun juga enggak ada. Kalau bicara God Bless, dari 2003 sampai hari ini saya tidak menerima sepeser pun. Cuma, bukan itu tujuan saya. Saya hidup di musik dari tahun 1970, bukan itu tujuan saya. Tapi, kalau dari musik saya bisa hidup, ya alhamdulillah.

Saya main musik bukan untuk hidup kok. Saya enggak butuh duit dari kalian. Cuma, kalau musik saya bisa kalian hargai sehingga orang bisa menghargai karya saya, dan orang membeli karya saya sehingga itu menjadi input materi buat saya, ya alhamdulillah.

Saya tidak mencari duit apalagi mencari popularitas. Paling tidak, apa yang saya lakukan itu yang kalian kaji. Menghargai lah, cukup menghargai saja.

Kalau ada alasan agak repot menentukan pencipta lagu dalam God Bless, apa pendapat Anda?

Enggak bisa seperti itu, karena di God Bless semenjak 1988, di saat rekaman "Semut Hitam" itu, pendataan itu jelas, siapa yang mencipta itu jelas. Artinya, paradigma di God Bless berbeda dengan paradigma sewaktu saya di Kantata Takwa membikin lagu.

Kalau di Kantata, saat saya membikin lagu "Kesaksian" atau lagu apa pun juga, saya workshop dengan Iwan Fals dan Sawung Jabo. Bertiga saya workshop di studio. Saya biarkan Mas Iwan bernyanyi, Jabo juga main sendiri, saya main sendiri, terus saya rekam. Pelan-pelan notasi spontanitas itu saya bangun, saya simpan dalam laptop sebagai raw material, bukan lagu. Kemudian, setelah selesai, saya bawa ke studio sendirian. Kemudian, raw material itu, ada ekspresi saya, Iwan, dan Jabo, saya rancang menjadi notasi yang terukur, menjadi refrain dan lagu. Setelah jadi refrain dan lagu, saya bikin aransemen musik dasar. Setelah selesai itu, saya telepon Rendra (almarhum WS Rendra). Saya minta lirik buat lagu "Kesaksian". Itulah prosesnya. Jadi, proses sebuah lagu dalam Kantata semua bareng-bareng. Jadi, di lagu "Kesaksian" itu enggak bisa dibilang lagu Yockie sendiri atau lagu Iwan sendiri, tapi itu lagu Yockie, Iwan, Jabo, dan Rendra selaku penulis lirik.

Tapi, kalau di God Bless, tidak seperti itu. Di God Bless, selama rekaman, kami bergaul lebih intens hanya saat mau rekaman dan mau main. Di luar kegiatan itu kami tidak berhubungan. Artinya, di luar itu kami punya wilayah pergaulan berbeda. Jadi, kalau bicara rekaman, katakanlah kami akan rekaman tanggal 10, jauh-jauh hari sebelum tanggal 10 itu saya bikin lagu sendiri di rumah, kemudian masuk studio. Oke, setelah di studio mau lagu siapa duluan direkam, misalnya lagu Yockie duluan, setelah itu baru saya duduk di piano dan saya rekam lagu saya, lalu saya kasih guide untuk Donny (Donny Fattah Gagola) main bas, lalu untuk Ian (Ian Antono) main gitar, dan untuk Teddy Sudjaya main drum. Mereka lah yang merespon lagu saya. Jadi, prosesnya jelas, siapa komposer, siapa arranger, karena yang lain menyesuaikan, sesuai apa yang saya inginkan. Tapi, kalau kemudian mau nyoba yang lain sih terserah, asal jangan keluar dari pattern yang saya ciptakan atau pattern yang Ian dan Donny ciptakan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.