Endah N Rhesa Mendongeng Lewat Lagu

Kompas.com - 30/06/2013, 16:11 WIB
Endah N Rhesa KOMPAS.COM/IRFAN MAULLANAEndah N Rhesa
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Di depan para cerpenis, Duo Endah dan Rhesa bercerita lewat lagu-lagu. Ada kisah jenaka, ada pula yang getir. Para cerpenis yang bertahun-tahun bergulat dengan kata-kata untuk bercerita itu mendapat cerita dengan medium berbeda.

Itulah penampilan Endah Widiastuti pada gitar/vokal, dan Rhesa Adityarama pada bas elektrik dalam Malam Anugerah Cerpen Kompas 2012, Kamis (27/6/2013) malam, di Bentara Budaya Jakarta. Penampilan suami-istri yang mengibarkan nama Endah N Rhesa ini menghibur seluruh pengunjung yang bergelak-tawa mendengar lagu-lagu Endah N Rhesa. Bahkan CD yang dijual di BBJ malam itu ludes dibeli pengunjung.

"Nama saya Endah dan laki-laki yang paling ganteng di sebelah saya ini Rhesa. Saya bilang ganteng ya karena suami saya," ucap Endah dengan senyum lebar.

Suasana langsung akrab. Tidak ada jarak antara penampil dan penonton. Tanpa ikut bicara, Rhesa mulai berimprovisasi dengan bas ditimpali alunan melodi gitar akustik Endah. Lagu balada ceria "Monkey Song" mengawali penampilan mereka.

"The monkey thinks so hard and doesn’t bear to ignore him/ And then he gives the banana to the little monkey/ Oh he is so insane/ What a Life... is to care and share...".

Lagu ini berkisah monyet besar yang sedang mencari pohon pisang di suatu pulau. Begitu menemukan pohon dan berhasil menggapai sebuah pisang satu-satunya yang tersisa, si monyet besar justru membaginya kepada seekor monyet kecil yang kelaparan.

"Kalau monyet saja bisa berbagi masak kita gak bisa…," kata Endah menyampaikan pesan lagu dan pengunjung mengamini dengan tepuk dan tawa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dongeng lain juga tersaji dalam lagu "Koukou The Fisherman" yang bercerita mengenai perjuangan nelayan Afrika bernama Koukou saat mencari ikan. Mereka menggambarkan sosok bersahaja Koukou yang pantang menyerah. Ada juga "Silent Island" dari album terbaru mereka, Escape. Lagu ini berisi fiksi tentang kehancuran pulau karena penggunaan teknologi yang tak bertanggung jawab.

Ada juga kisah getir seperti dalam lagu "Balada TKW". Dari tujuh lagu yang mereka bawakan, inilah satu-satunya yang berlirik bahasa Indonesia. Lagu bertutur tentang seorang tenaga kerja wanita yang memutuskan meninggalkan keluarga di desa untuk bekerja di kota. Setelah bertahun-tahun mencari nafkah, dia kembali ke kampung halaman dan mendapati suaminya menikah lagi.

Tembang lainnya berjudul "Tuimbe" mereka bawakan dengan sisipan lagu daerah Papua "Yamke Rambe Yamko". Tuimbe adalah bahasa Swahili Afrika yang berarti 'mari bernyanyi'. Endah bernyanyi sambil menabuh badan gitar, sementara Rhesa tetap membetot bas. Nuansa Afrika cukup kental dalam lagu tersebut.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.