Lagu Para Penggonggong Kezaliman

Kompas.com - 11/08/2013, 15:33 WIB
Iwan Fals KOMPAS.com/IRFAN MAULLANAIwan Fals
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Sudah dengar album terbaru Iwan Fals yang diluncurkan Juni 2013 ini? Di album ganda itu, Iwan masih tertawa-tawa sinis menyanyikan lagu "Rekening Gendut". Gaya penulisan lirik Iwan yang nakal dan menyentil itu diadaptasi oleh beberapa musisi generasi sesudahnya seperti Simponi dan ((Auman)). Mereka ibarat kawanan anjing yang tak henti menggonggong kezaliman.

Akhir tahun 2012 beredar album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus di situs beranijujur.net. Album itu berisi sepuluh band yang masing-masing menyanyikan lagu bertema antikorupsi. Kelompok atau musisi yang terlibat antara lain Risky Summerbee and The Honeythief, Eyefeelsix dibantu Morgue Vanguard, Morfem, dan Navicula.

Satu band lainnya adalah Simponi yang menyumbangkan lagu "Vonis/Verdict". Simponi baru melepas lagu itu dalam minialbum mereka, Cinta Bumi Manusia, pada Februari 2013. Tak perlu lama-lama album itu dijual seharga Rp 30.000. Sejak awal Agustus, mereka menggratiskan empat lagu di dalamnya untuk diunduh.

M Berkah Gamulya (gitar) menulis lirik lagu itu dan banyak lagu lainnya. Dalam lagu itu, ia mengoceh tentang kerusakan lingkungan yang berhulu dari korupsi: Pengusaha rakus hutan gundul/Bencana datang tak henti/Vonis hakim bisa dibeli/Koruptor dilindungi.

Lewat lagu itu pula, Simponi tampil membawakan lima lagu di Brasil, November lalu. Mereka menempati peringkat kedua dalam International Anti-Corruption Music Competiton. Sebelumnya, mereka mewakili Indonesia di Korea Selatan di ajang Asia Pacific Environmental Youth Forum pada 2011 dan 2012.

Simponi bermarkas di rumah petak di daerah Margonda, Kota Depok, Jawa Barat. Di rumah sewa bertarif Rp 600.000 per bulan itu, Berkah tinggal bersama vokalis band Rendy Ahmad yang pernah main di film Sang Pemimpi sebagai Arai. Selain mereka berdua, Simponi diawaki oleh Andru Steven (drum, perkusi), Rama Prayudha (bas), dan Paul Simatupang (gitar).

Ketajaman lirik Berkah bisa jadi bersumber dari pengalamannya sebagai aktivis di beberapa organisasi sosial dan lingkungan sejak tahun 2000. Band pengusung corak musik pop/rock itu terbentuk pada 28 Oktober 2010 saat hari Sumpah Pemuda.

Ke sekolah
Walau terbilang baru, band ini rajin menggelar tur di belasan kota. Pada Mei silam, misalnya, mereka keliling sebelas kota di Jawa dan Bali untuk mempromosikan singel "Sister in Danger". Tak cuma berpromosi, mereka juga berdiskusi di sekolah dan kampus. Tur itu dapat sokongan dana dari Komnas Perempuan.

Mereka mengaku sebagai band diskusi. Saat pertama terbentuk, Simponi berkeliling ke 82 sekolah di wilayah Jabodetabek dan Lampung selama 82 hari. Perjalanan itu untuk menyadarkan siswa tentang kerusakan lingkungan yang menyebabkan pemanasan global. Pada 2011, Komisi Pemberantasan Korupsi dan Indonesia Corruption Watch mengajak mereka keliling tujuh kota di Jawa untuk menyuarakan pemberantasan korupsi.

Sekolah dan kampus adalah panggung mereka karena merasa belum nge-top sehingga perlu membuat pentas sendiri. Sejak 2010, mereka menghitung telah "manggung" di 169 sekolah, kampus, dan pesantren, mulai dari Lampung, beberapa kota di Jawa, hingga Bali. Keseluruhan peserta diskusinya mencapai 18.000 orang.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.