Krisdayanti: Aku Seperti Terlahir Kembali

Kompas.com - 24/11/2013, 10:54 WIB
Penyanyi Krisdayanti tampil pada pembukaan Kemang Fashion Week Diva Glam di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (10/4/2013). Acara ini merupakan peragaan fashion akbar yang digelar oleh Lippo Mall Kemang selama lima hari, dari 10 hingga 14 April 2013 dengan menampilkan 33 desainer Indonesia dan 24 international brand. KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTOPenyanyi Krisdayanti tampil pada pembukaan Kemang Fashion Week Diva Glam di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (10/4/2013). Acara ini merupakan peragaan fashion akbar yang digelar oleh Lippo Mall Kemang selama lima hari, dari 10 hingga 14 April 2013 dengan menampilkan 33 desainer Indonesia dan 24 international brand.
EditorAti Kamil
"Aku seperti lahir kembali. Rasanya seperti sepuluh tahun lalu. Energiku kayak orang umur 28," kata Krisdayanti tentang kembalinya ke dapur rekaman untuk album Persembahan Ratu Cinta.

Usianya ketika itu baru 16 tahun. Wartawan mengenalnya sebagai "adiknya Yuni Shara" yang lebih dulu populer. Padahal, ia punya nama Kris Dayanti--ketika itu namanya tertulis terpisah antara Kris dan Dayanti. Itu kenangan tahun 1992.

Setelah namanya disebut-sebut sebagai penyanyi yang menang dalam kontes Asia Bagus di Singapura tahun 1992, Kris Dayanti masih dilekati embel-embel sebagai "adiknya Yuni Shara". Setahun kemudian, "adiknya Yuni" itu sudah terbang ke Budapest mengikuti Festival Musik Internasional.

Dari semula penyanyi kurang dikenal dan berpredikat amatir, Kris Dayanti merambat populer. Bahkan, pada akhir 1990-an orang sudah latah menyebutnya sebagai Diva. Ia dikenal luas bukan hanya sebagai penyanyi, melainkan juga pemain sinetron. Kemudian pada suatu masa Krisdayanti punya julukan KD. Sebagai KD, Yanti si anak Batu, Jawa Timur, itu berada di tengah gebyar panggung hiburan.

Jika ketenaran digunakan sebagai ukuran pencapaian seorang penyanyi, maka KD telah mendapatkannya. Jika ukuran keberhasilan itu adalah perolehan materi, maka KD pernah pula mencecapnya. Gemerlap panggung dengan riuh tepuk tangan, dan sanjungan ribuan penonton, pernah mengisi hari-harinya. Namun, sekitar empat tahun lalu, ia seperti menyepi dari gebyar jagat hiburan itu.

Kini, ia kembali lagi sebagai Krisdayanti—bukan KD—lewat album Persembahan Ratu Cinta.

Arti sebuah nama
Mengapa tidak KD lagi?
"Orangtuaku memberi nama Krisdayanti itu bukan tanpa arti," kata Yanti, saat berbincang di rumahnya di bilangan Jeruk Purut, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (21/11/2013) siang.

Ia lalu bercerita tentang hikayat nama Krisdayanti. Alkisah, ketika ia lahir, ayahnya yang seniman sedang memahat figur yang kemudian mengilhami munculnya nama Krisdayanti. Namun, ada makna lain dalam namanya yang ia percaya memuat doa dan harapan.

"Kris, keris itu pusaka, dan daya. Jadi, ada dua kekuatan: keris dan daya. Dua kekuatan perempuan. Mendengarnya saja rasanya kayak nyulut geni.... Maksudnya aku mendapat semangat dari nama itu..."

Dengan semangat dari nama yang mengandung doa dan harapan itulah Yanti menghadapi jatuh bangun kehidupan. "Ketika aku harus turun gunung merosok ke kanan kiri, menghadapi kehidupan yang rasanya enggak adil buat aku, itu rasanya aku tetap semangat saja."

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X