Mencari Pesan Soekarno

Kompas.com - 15/12/2013, 12:23 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- "Kemerdekaan bukan tujuan, tetapi awal. Kita yang mengawali. Selebihnya, kita serahkan pada anak cucu...."

Menjelang rilis film Soekarno, Selasa (11/12), sutradara Hanung Bramantyo menjelaskan, film ini adalah suatu sudut pandang tentang Soekarno, Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Meski dibuat berdasar riset sejarah, film tetaplah kompromi antara idealisme sutradara dan pertimbangan bisnis.

Sosok Soekarno (1901-1970) jelas terlalu besar untuk diwadahi dalam satu film saja. Karenanya, ini menjadi interpretasi bagian kehidupan Pemimpin Besar Revolusi itu. Dengan durasi dua jam 17 menit, kata Hanung, Soekarno ingin menyampaikan pesan, merdeka berarti mandiri sebagai bangsa.

Pesan untuk jadi tuan di negeri sendiri itu disampaikan sejak awal film. Misalnya, saat Soekarno belia mengekspresikan kemarahan karena diusir dari rumah noni Belanda dengan berpidato sendiri. Pesan itu lalu diteriakkan Tjokroaminoto yang menguatkan benih kebangsaan di dada Soekarno remaja.

Cerita bergulir menampilkan Soekarno (diperankan Ario Bayu) memimpin pergerakan pemuda dengan gagah. Dramatika penangkapan Soekarno hingga ia dijebloskan ke penjara, lalu diasingkan ke Ende dan Bengkulu, pun terbangun baik.

Hanung menghadirkan visualisasi masa lalu dengan cukup apik. Mulai dari pasar di Surabaya, penjara Banceuy, perkampungan di Bengkulu, hingga kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Di Bengkulu, Soekarno yang diasingkan bersama istrinya, Inggit Ganarsih (Maudy Koesnaedi), berkenalan dengan Fatmawati (Tika Bravani), murid sekolah Muhammadiyah tempat ia mengajar. Gaya Soekarno merayu Fatma dengan cerita perang Pasifik di pantai jadi sisipan menarik.

Masalahnya, "sisipan" itu berkembang hingga sempat mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Menjelang Jepang tiba di Bengkulu, Belanda mengangkut Soekarno dan keluarganya untuk dibawa ke Australia. Ketika itu, Soekarno berujar pada Inggit, "Keadaan ini di luar dugaanku."

"Keadaan yang mana, Jepang (masuk Indonesia) atau perempuan itu," sahut Inggit. Dalam hal ini, penonton pun sama bingungnya dengan Inggit.

Soekarno batal diangkut ke Australia karena Jepang keburu menguasai Sumatera. Di sini, pembantaian Belanda oleh serdadu Jepang, penjarahan warga keturunan China dan Belanda, dengan cepat dimasukkan dalam konteks cerita.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.