"3600 Detik": Cinta dan Pemberontakan

Kompas.com - 04/04/2014, 20:47 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Cinta dan pemberontakan remaja menjadi tema yang tak pernah habis digarap ke dalam sebuah film. Dalam film 3600 Detik, sutradara Nayato Fio Nuala meramunya tanpa bumbu kekerasan dan seks. Ini memang pemberontakan yang manis dari remaja putih abu-abu bernama Sandra (Sherryl Getting-Shae).

Setelah perceraian kedua orangtuanya, Sandra yang semula hidup "lurus" mendadak muncul sebagai sosok pemberontak. Ia kecewa karena tanpa dikomunikasikan sebelumnya, tiba-tiba orangtuanya berpisah. Sandra yang sangat dekat dengan ayahnya terpukul karena sang ayah, diperankan Ponco Buwono, kemudian memutuskan pergi ke luar negeri. Sementara Sandra terpaksa tinggal bersama ibunya (Wulan Guritno), padahal hubungan keduanya kurang dekat.

Pemberontakan diwujudkan Sandra dengan mengubah total penampilannya. Rambut dan kukunya dicat merah. Ia memasang tindik di telinga dan hidung.

Gelang ala rocker pun melingkar di pergelangan tangan. Ia juga mulai melanggar semua aturan yang dulu pernah dibuat ayahnya: membolos sekolah, malas belajar, hingga nilainya selalu merah, sering terlambat, merokok, hingga ia berkali-kali dihukum kepala sekolah.

"Ternyata hidup lurus tidak membuat kita bahagia." Demikian Sandra memaknai pemberontakannya sebelum ia dekat dengan Leon (Stefan William), sosok pandai di kelasnya yang mati-matian naksir Sandra.

Menyerap penonton
Leon yang menyimpan rahasia besar dalam hidupnya menawarkan persahabatan sekaligus keinginan terpendam menjadi kekasih Sandra.

Film 3600 Detik menambah daftar panjang film produksi Starvision yang diadaptasi dari novel. Film yang diluncurkan awal pekan lalu ini diangkat dari novel teenlit berjudul sama karya Charon.

"Saya sendiri terinspirasi dari ulah teman saya yang memberontak seperti Sandra ketika sekolah dulu," ujar Charon.

Chand Parwes, pemilik Starvision, mengatakan, buku itu dibawa sendiri oleh Nayato ke Starvision. Setelah membacanya, ia setuju memproduksi filmnya karena ringan dan biayanya tidak mahal.

Di pasar, kata Chand, film-film tema remaja akan mampu menyerap penonton seusia mereka. Itulah kenapa film tentang percintaan remaja tidak pernah habis digarap produsen film.

Film memiliki bahasa untuk menyampaikan pesan. Melalui karakter Sandra yang keras dan kelembutan Leon, Nayato ingin menyampaikan pesan bahwa kekerasan bisa ditundukkan dengan kelembutan dan pengertian tiada akhir. Kebahagiaan juga bisa diciptakan dalam waktu 3600 Detik. (Lusiana Indriasari)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.