"Soekarno" Menjajal Pasar ASEAN

Kompas.com - 07/09/2014, 18:55 WIB
Pemain film Ario Bayu hadir pada acara media gathering film Soekarno di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2013). Ario Bayu memerankan tokoh Soekarno pada film tersebut. TRIBUN JAKARTA/JEPRIMAPemain film Ario Bayu hadir pada acara media gathering film Soekarno di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2013). Ario Bayu memerankan tokoh Soekarno pada film tersebut.
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Film Soekarno produksi Multi Vision Plus Pictures mendapat sambutan hangat ketika diputar di Singapura, Agustus lalu. Film itu menjadi film kedua yang diputar di luar Indonesia setelah The Raid. Industri film Indonesia kini coba-coba menjelajah pasar Asia.

Tak terasa, air mata Ana Rohana, pekerja Indonesia yang merantau 13 tahun di Singapura, menetes saat adegan teks proklamasi dibacakan. Suara asli Soekarno yang dicuplik dalam film Soekarno itu seolah membawanya kembali ke Tanah Air. Lagu "Syukur" yang syahdu membuat tangisnya pecah.

Saat adegan berakhir dan penonton mulai menuju pintu keluar, Ana masih berpelukan dengan sahabatnya, Satri, di kursi bioskop.

"Saya kangen Tanah Air. Melihat film itu, saya rasanya ingin balik ke rumah," kata Ana yang asli Grobogan, Jawa Tengah, seusai menyaksikan pemutaran Soekarno di Golden View Cineplex, Singapura.

Strategi produser film Raam Punjabi membawa film Soekarno ke Singapura memang jitu. Film Soekarno yang gagal meledak di Indonesia justru diapresiasi penonton Singapura yang notabene punya ikatan jiwa dengan Tanah Air. Apalagi pemutaran dilakukan berdekatan dengan Hari Kemerdekaan RI. Hasilnya, Teater 1 Golden View Cineplex yang berkapasitas 400 tempat duduk penuh oleh penonton, yang sebagian WNI. Semua tempat duduk terisi penuh oleh warga Singapura dan WNI.

Lepas dari Singapura, Soekarno juga akan dibawa ke Malaysia dan Hongkong pada September ini, dua negara tempat WNI banyak bekerja. Karya yang prima dan adanya tokoh pemimpin dunia dalam ceritanya diharapkan bisa menarik perhatian masyarakat internasional.

Pasar besar
Asia Tenggara dengan jumlah penduduk sekitar 600 juta jiwa memang menjadi pasar yang menggiurkan dalam industri film. Menurut Nelson Mok, distributor film produksi Multi Vision Plus (MVP) Pictures untuk Singapura, orang akan memilih pergi ke gedung bioskop untuk menghabiskan liburan singkat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mau ke mana lagi, kami tidak bisa naik gunung atau menikmati alam luas. Bioskop jadi alternatif utama menghabiskan liburan singkat," kata Mok.

Namun, merebut pasar Asia Tenggara tidaklah mudah. Di Singapura, misalnya, hingga kini, menurut Mok, bioskop masih didominasi film Hollywood. Film-film seperti Transformers dan The Amazing Spider-Man laku keras.

Thailand dan Filipina juga menjadi medan berat untuk dijajaki. Industri perfilman mereka ramai. Menurut Raam Punjabi, Filipina setiap tahun hanya menghasilkan kurang dari 50 judul film, atau lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia yang mencapai 80-100 judul film per tahun. Tetapi, di Filipina penetrasi pasarnya lebih besar. Banyak film yang menjadi box office. Perolehan film laku keras. Mereka bisa mencapai setengah dari nilai box office film Hollywood yang diputar di sana. Adapun di Indonesia, film box office bisa dihitung dengan jari, salah satunya The Raid, Ainun dan Habibie, ataupun 5 cm.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.