K-Pop Berbahasa Korea, Itu Soal Emosi

Kompas.com - 23/09/2014, 15:57 WIB
Super Junior atau SuJu tampil dalam konser SMTOWN Live World Tour II di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (22/9/2012). Konser SMTOWN Live World Tour II didukung oleh boyband dan girlband Korea seperti Kangta, Boa, Tvxq, Girls Generation, Shinee, F(x), dan Exo. KOMPAS IMAGES/MUNDRI WINANTOSuper Junior atau SuJu tampil dalam konser SMTOWN Live World Tour II di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (22/9/2012). Konser SMTOWN Live World Tour II didukung oleh boyband dan girlband Korea seperti Kangta, Boa, Tvxq, Girls Generation, Shinee, F(x), dan Exo.
|
EditorAti Kamil

KOMPAS.com — Bahasa Korea lebih banyak dipakai dalam lirik lagu yang disajikan oleh boyband dan girlband Korea Selatan daripada bahasa Inggris, walaupun K-Pop mendunia. Tentu ada alasan yang melatari hal itu.

Secara prinsip, orang-orang Korea Selatan tak fanatik dengan bahasa sendiri. Mereka sebenarnya fasih berbahasa Inggris.

Namun, lirik-lirik lagu mereka selalu dominan berbahasa Korea. Pemilihan bahasa ibu sebagai lirik lagu ini lebih sebagai pengikat emosi antara sang penyanyi dengan audiens.

Menyanyikan lagu K-pop dengan bahasa negara sendiri akan memudahkan para personel boyband dan girlband mendapatkan emosi dari nyanyian itu.  Mereka akan lebih mudah mendapatkan rasa dan emosinya.

Mengenalkan karya musik dalam bahasa Inggris di Korea, mungkin orang hanya sebatas suka, tetapi setelah itu kurang melekat di hati, kurang memahami lagunya. Hasilnya berbeda jika dalam bahasa Korea.

Namun, dalam perkembangannya, lagu-lagu K-pop sudah banyak beradaptasi dengan pasar musik internasional, tanpa meninggalkan bahasa Korea Selatan.

Contohnya, girlband So Nyeo Shi Dae (SNSD) atau Girl's Generation, yang beranggotakan Taeyeon, Jessica, Sunny, Tiffany, Hyoyeon, Yuri, Sooyoung, Yoona, dan Seohyun, mengeluarkan single "The Boys" dalam bahasa Inggris. Namun, ketika lagu tersebut dirilis untuk kali pertama pada 2010, ada versi bahasa Korea Selatan, Inggris, dan Jepang untuk liriknya.

Contoh lainnya, salah satu personel boyband Big Bang, vokalis Taeyang, mirilis single solonya dengan judul Korea, yang dalam huruf Latin berbunyi "Nun, Ko, Ibsul".

Namun, setelah lagu itu dikenal oleh publik internasional, YG Entertainment selaku agen Taeyang merilis single tersebut dalam bahasa Inggris dengan judul "Eyes, Nose, Lips", ditambah penggalan lirik yang juga menggunakan bahasa Inggris.

Perkembangan musik K-pop bersama film dan drama seri Korea Selatan, yang disebar melalui gelombang Hallyu (Korean Wave atau Gelombang Korea) ke seluruh dunia, telah membawa perubahan besar bagi kemajuan negaranya.

Awal 1990-an, mereka masih mendengarkan lagu-lagu dan menonton film-film dari Barat dan Jepang. Namun, pada akhir 1999, anak-anak muda Korea mulai berkembang.

Mereka tidak lagi ingin menjadi seorang insinyur, mereka ingin menjadi seorang artis. Dari situlah mulai berkembang, musik K-pop, drama Korea, game, dan hal ini tentu mendapat dukungan dari pemerintah yang akhirnya menetapkan beberapa regulasi untuk mengembangkannya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X