Dua Bersaudara Cari Ayah di Ulang Tahun Galeri Indonesia Kaya

Kompas.com - 12/10/2014, 14:02 WIB
Penulis Ati Kamil
|
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Alkisah, dua bersaudara tidak pernah mengetahui identitas ayah mereka. Ibu mereka tak pernah memberi tahu identitas dan keberadaan ayah mereka. Karena penasaran, sesudah bertanya kepada sang ibu mengenai ayah mereka, dua bersaudara itu pergi mencari ayah mereka. Bermodal balon udara dan peta, mereka menjelajahi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Itulah cerita drama musikal interaktif 4 Wanita: Jelajah, yang dipersembahkan oleh Galeri Indonesia Kaya (GIK) bersama Threebute dalam rangkaian perayaan hari ulang tahun pertama GIK di Auditorium GIK, Jakarta, Jumat lalu (10/10/2014). Dua bersaudara itu dimainkan oleh artis peran Aming Supriatna Sugandhi dan penyanyi cilik Naura, sedangkan sang ibu diperani oleh vokalis Dira Sugandi.

Pertunjukan yang diprakarsai oleh Sashi Gandarum tersebut melibatkan pula Monita Tahalea, Yura Yunita, Cantika Abigail-Gamaliel-Audrey Tapiheru, dan Yuyun Arfah. Dalam pementasan berdurasi lebih kurang satu setengah jam itu, para penonton diajak ikut menentukan ke mana cerita berlanjut.

GIK mengambil tema "Indonesia Kreatif, Indonesia Keren" untuk perayaan hari ulang tahun pertamanya. GIK sendiri merupakan ruang publik yang didirikan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation untuk melestarikan budaya yang ada di Indonesia.

"Pembangunan Galeri Indonesia Kaya ini berawal dari kepedulian kami terhadap perkembangan seni budaya Indonesia dan dirasakan kurangnya ruang publik di Jakarta, fasilitas dan sarana untuk para seniman muda berbakat dan informasi tentang budaya Indonesia yang mudah dipelajari dan diakses," jelas Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, melalui keterangan tertulis untuk pers.

Aming menjelaskan bahwa kehadiran GIK bisa membantu kaum muda mengenal dan peduli kepada budaya yang ada di Indonesia.

"Saya ngelihatnya mungkin dengan adanya art space Galeri Indonesia Kaya ini, masih banyak kok anak muda yang peduli dengan keberadaan, keberagaman, dan eksistensi budayanya,” ucap Aming di GIK.

"Sebenarnya, dari dulu anak muda concern terhadap budayanya. Yang jadi problem adalah kurangnya tempat atau fasilitas untuk mengakomodasi itu semua. Makanya, dengan Galeri Indonesia Kaya kan segala sesuatunya bisa terakomodasi, lebih terpusatkan, bisa jadi lebih terarah," ucapnya lagi. (Benedictus Gemilang Adinda)

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X