Memanggil Pendekar Turun Gunung...

Kompas.com - 21/10/2014, 07:35 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

Pendekar Tongkat Emas mempunyai cerita yang sangat kuat. Terlalu berat untuk pemeran yang tidak berlatar akting. Karena itu, kami memilih pemeran aktor yang bagus, bukan olahragawan bela diri,” ujar Mira.

Menurut Mira, cerita komik silat Indonesia umumnya kental dengan kultur oriental, digandeng dengan cerita kerajaan Jawa. Dengan menggunakan Sumba sebagai latar cerita, film ini bukan hanya mendapat lokasi spektakuler, tetapi juga mempunyai warna budaya yang lebih kaya.

Si Buta

Dalam sejarah perfilman Indonesia, komik silat cukup banyak diangkat ke layar lebar. Misalnya, tokoh Si Buta dari Gua Hantu karya komikus Ganes Th, yang setidaknya lebih dari enam kali difilmkan dengan pemeran utama Ratno Timoer.

Tersebutlah Si Buta dari Gua Hantu (1970), Misteri di Borobudur (1971), Sorga yang Hilang (1977), Si Buta dari Gua Hantu—Duel di Kawah Bromo (1977), Si Buta dari Gua Hantu—Neraka Perut Bumi (1985), dan Si Buta dari Gua Hantu—Lembah Tengkorak (1990). Film-film tersebut mengukuhkan Ratno Timoer sebagai ”pendekar” perfilman Indonesia.

Tokoh Parmin Sutawinata yang lebih sohor sebagai Pendekar Gunung Sembung karya komikus Djair Warni Ponakanda juga termasuk sering muncul di layar lebar. Antara lain, Jaka Sembung Sang Penakluk (1981), Bajing Ireng dan Jaka Sembung (1983), serta Jaka Sembung dan Dewi Samudra (1990). Karena sama-sama populer, kedua pendekar itu dipertemukan dalam film Si Buta Lawan Jaka Sembung (1983).

Tokoh-tokoh komik lain yang diangkat ke layar lebar adalah Panji Tengkorak karya Hans Djaladara dalam film Pandji Tengkorak (1971) dengan Deddy Sutomo sebagai Panji Tengkorak dan aktris Taiwan, Shan Kuang Ling Fung, sebagai Dewi Bunga.

Kemudian Pendekar Bambu Kuning (1971) yang diangkat dari komik karya Usjahbudin. Juga komik karya man atau Mansyur Daman, yaitu Mandala dari Sungai Ular (1987) dan Mandala Penakluk Satria Tartar (1988).

Film silat bisa dibilang sebagai salah satu genre yang digemari dalam perfilman Indonesia. Bahkan, sejak era 1930-an, para pendekar telah meramaikan ”dunia persilatan”, antara lain Si Tjonat (1929) garapan sutradara Nelson Wong yang dibintangi Lie A Tjip, kemudian Si Pitoeng (1931) dan Si Ronda (1930).

Rentang masa 1987-1992, ketika industri perfilman sedang lesu akibat krisis ekonomi, para pendekar masih cukup perkasa beraksi. Tercatat dari 558 judul film, 171 judul berupa film laga, termasuk silat. Selebihnya adalah film drama (167), komedi (74), remaja (59), horor (44), sejarah (10), dan anak-anak (3). Bahkan, serial Saur Sepuh I-IV karya sutradara Imam Tantowi tercatat sebagai film paling laris.

Kini, Pendekar Tongkat Emas sudah siap turun gunung. Sang pendekar akan bersaing dengan film-film yang dijadwalkan edar pada masa liburan, bulan Desember, termasuk Exodus: Gods and Kings serta The Hobbit: The Battle of the Fight Armies.

(DAY/XAR)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Sumber KOMPAS
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.