Pertemuan Budaya di Album Budjana

Kompas.com - 08/03/2015, 21:02 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Menarik menyimak komposisi Dewa Budjana di album solo terbarunya, Hasta Karma. Karya yang lahir dari latar kebalian Budjana itu dibaca oleh musisi dengan berbagai latar kultural.

Mereka adalah Antonio Sanchez, drumer asal Meksiko yang mendapat Oscar 2015 untuk komposisinya dalam film Birdman. Sanchez juga pernah mendukung Pat Metheny dan Chic Corea. Kemudian Ben Williams pada bas musisi berdarah Afro-Amerika yang juga pernah bermain untuk Pat Metheny. Ada Joe Locke pada vibrafon yang pernah mendukung legenda jazz Dizzy Gillespie sampai penyanyi rock Rod Stewart.

Mereka menginterpretasi antara lain karya berjudul "Jayaprana" yang yang dibuat Budjana atas kenangannya pada pentas pertunjukan rakyat Jayaprana di Bali. Budjana menyusun komposisi berdasar ritme pada gamelan Bali dengan ritme 5/8. Sanchez merespons "Jayaprana" tanpa mengetahui latar kultural di balik karya tersebut. Dan cukup mengagetkan, Sanchez memainkan cymbal dan hi-hat seperti ia memainkan perkusi ceng-ceng pada gamelan Bali. Mungkin hal itu hanya terjadi secara kebetulan dan hasilnya terdengar perkusif, ritmis, dan terkesan seperti perkusi pada gamelan Bali.

"Rhythm tradisinya tidak hilang," kata Budjana.

Sanchez dan musisi lain tidak mengetahui tentang latar belakang komposisi tersebut. Bahkan, mereka juga tidak mengetahui latar kultural Budjana sebagai musisi tumbuh dengan tradisi Bali. Di studio rekaman di New York, Amerika Serikat, mereka hanya "berlatih" bersamaan dengan take atau perekaman secara langsung, live. Dan pada take ke-3 jadilah "Jayaprana" dengan "rasa Bali" itu.

Susupan Bali
Susupan rasa Bali juga terasa pada "Saniscara" dan "Payogan Rain". Komposisi lama "Ruang Dialisis" yang pernah dimuat di album Nusa Damai (1997) dimunculkan lagi di album ini bahkan disertai semacam kidung tradisi Bali. Tentang rasa Bali itu, Budjana mengaku hal itu bukan sesuatu yang sengaja direncanakan.

"Itu muncul begitu saja, padahal saya tidak menguasai gamelan Bali," kata Budjana.

Melodi yang muncul dari khazanah nada-nada pentatonik itu terdengar agak asing bagi musisi yang tidak familiar dengan melodi-melodi pentatonik. Bob Mintzer, musisi jazz yang mendukung Budjana pada album sebelumnya, Surya Namaskar (2014), mengaku mendengar notasi yang katanya jarang ditemuinya. Bob kepada Budjana mengaku tidak terbiasa dengan notasi-notasi seperti itu.

Begitu juga bagi musisi di album Hasta Karma.

"Mereka bilang melodinya simpel, tetapi sulit dimainkan. Tetapi hasilnya di luar bayangan saya, ada kejutan," kata Budjana.

Sebuah komposisi memang baru menemukan hidupnya ketika dibaca, ditafsir, dihayati, dan dimainkan. Karya Budjana dibaca oleh musisi dari berbagai latar budaya: sebuah pertemuan budaya yang menghidupkan musik di album ini. (XAR)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.