Filosofi Kopi Angga Sasongko dan Fenomena "Dream Maker" Kontemporer

Kompas.com - 04/08/2017, 18:12 WIB
 Karim Raslan (kiri) dan Angga Sasongko sedang bersantai menikmati kopi di kedai Filosofi Kopi, Melawai Jakarta, Juli 2017. Dok Karim Raslan Karim Raslan (kiri) dan Angga Sasongko sedang bersantai menikmati kopi di kedai Filosofi Kopi, Melawai Jakarta, Juli 2017.
EditorAmir Sodikin

PARA pencerita di era modern, seperti sutradara film berusia tiga puluh dua tahun Angga Dwimas Sasongko, tak lagi terikat hanya oleh satu format media.

Mereka telah menjangkau berbagai platform mulai film, televisi, periklanan, video hingga game online, untuk memproduksi dan mereproduksi cerita mereka.

Saat ini, lebih dari 55 persen penduduk Indonesia menghabiskan waktunya lebih dari enam jam per hari untuk berselancar di internet, terutama melalui smartphone.

Maka tak heran, perjuangan untuk sekadar menangkap “bola mata” seseorang menjadi sebuah usaha yang epik dan tak ada akhirnya.

Seperti yang Angga katakan, “Sekarang ini, hanya soal bagaimana mendekatkan diri dengan penonton. Bagaimana cara masuk ke smartphone setiap orang? Membuat konten lalu menembuskannya ke dalam smartphone.”

Melalui dua film Filosofi Kopi-nya, Angga telah membuktikan dirinya sebagai frontrunner dalam area multidimensi ini, ketika sebuah film tak lagi sekadar film biasa dan ditayangkan di bioskop, tetapi lebih luas lagi.

Boleh dibilang, Angga seperti ingin menciptakan semesta (universe) dengan mengajak kaum muda milenial Jakarta menyeruput espresso di kafe-kafe modern bernuansa kayu sekaligus komunitas-komunitas petani di Lampung, Toraja, dan Jawa Timur.

Seri Filosofi Kopi menceritakan sebuah persahabatan dua lelaki sedari kecil yang luar biasa. Sebuah bromance antara seorang Indonesia keturunan Tionghoa dan pribumi, suatu hal yang muskil terjadi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta baru-baru ini.

Mereka adalah duo yang unik, Jody (diperankan oleh Rio Dewanto) adalah keturunan Tionghoa dengan karakter kaku, keras, dan tukang pikir. Sebaliknya, Ben (Chicco Jerikho) adalah barista yang temperamen dan bersemangat, tapi memiliki filosofi dalam setiap cangkir kopi yang diramunya.

Tak terelakkan, hubungan mereka mulai terganggu hingga mengusik bisnis bersama ketika muncul sosok-sosok perempuan yang memperumit hidup mereka.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X