Arie Kriting Berbagi Ilmu Menjadi Konsultan Komedi

Kompas.com - 04/01/2018, 16:19 WIB
Pemain film Comic 8: Casino Kings, Arie Kriting, berkunjung ke kantor Redaksi Kompas.com, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2015). Film komedi yang diperankan oleh sejumlah stand up comedian atau komika tersebut akan diputar di gedung-gedung bioskop Tanah Air mulai 15 Juli 2015. KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOPemain film Comic 8: Casino Kings, Arie Kriting, berkunjung ke kantor Redaksi Kompas.com, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2015). Film komedi yang diperankan oleh sejumlah stand up comedian atau komika tersebut akan diputar di gedung-gedung bioskop Tanah Air mulai 15 Juli 2015.
|
EditorIrfan Maullana

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjadi konsultan komedi bukan hal baru bagi komika Arie Kriting. Tercatat sudah empat kali Arie duduk di posisi itu, yakni untuk film Ngenest, Warkop DKI Reborn, Gila Lu Ndro, dan Susah Sinyal.

Berbekal pengalamannya itu, Arie berbagi ilmu menjadi seorang konsultan komedi.

"Comedy consultant sebenarnya sama dengan action director," ucap Arie saat ditemui di Grand Mall Bekasi, Jawa Barat, baru-baru ini.

Jika action director atau pengarah laga bertugas menata koreografi aksi, mengatur ritme, menentukan gerakan dan lainnya, maka konsultan komedi pun memiliki deskripsi tugas yang sama.

"Ketika sebuah dialog disampaikan, adegan komedi itu kita pilah, oh ini set up, ini punch line," ujar Arie.

Ia juga menjelaskan, seorang konsultan komedi harus mampu memahami karakter sutradara dan kebutuhan dalam skenario.

Baca juga : Arie Kriting: Komedi Itu Tak Melulu Bertingkah Kocak

"Jadi kan konsultan komedi itu dia duduk di antara penonton sama director. Kami mencoba menerjemahkan komedi dalam script, kemudian keinginan sutradara level komedinya seperti apa dan eksekusi di lapangan apakah sudah sesuai," ujar Arie.

Karena itulah, menurut dia, seorang konsultan komedi harus bisa memahami struktur penulisan komedi terlebih dulu. Pasalnya, komedi panggung dan komedi dalam film sedikit berbeda.

Di panggung, lawakan bisa terjadi spontan dan "bebas". Sedangkan berkomedi dalam film, punya banyak batasan dan struktur.

"Karena kan komedi tidak sekadar lucu-lucuan. Ada punchline, timing, set up yang enggak boleh hilang, ada punchline yang ditebelin," ucapnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terpopuler

komentar di artikel lainnya
Close Ads X