Syamsul Fuad Sebut Perjanjian Hak Cipta Benyamin Biar Kerok Tidak Ada

Kompas.com - 26/04/2018, 17:22 WIB
Penulis cerita asli Benyamin Biang Kerok, Syamsul Fuad, sedang menanti sidang kasus dugaan pelanggaran hak cipta terhadap karnyanya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (19/4/2018). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGPenulis cerita asli Benyamin Biang Kerok, Syamsul Fuad, sedang menanti sidang kasus dugaan pelanggaran hak cipta terhadap karnyanya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (19/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kuasa hukum penulis cerita asli Benyamin Biang Kerok (1972), Bakhtiar Yusuf, mengatakan bahwa perjanjian pembelian hak cipta yang dilakukan oleh dua rumah produksi Falcon Pictures dan MAX Pictures dengan PT Layar Cipta Karya Mas Film tidak legal.

Hal itu diungkapkan oleh Bakhtiar seusai menjalani sidang beragendakan replik di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (26/4/2018).

"Jadi isinya itu kami mengatakan bahwa perjanjian yang mereka buat dengan PT. Layar Cipta Karya Mas Film itu batal demi hukum. Dianggap tidak pernah ada," kata Bakhtiar.

Bakhtiar menjelaskan, PT Layar Cipta Karya Mas Film adalah rumah produksi yang membeli film Benyamin Biang Kerok (1972).

Rumah produksi itu membuat perjanjian pembelian pada 2010. Falcon kemudian membeli kembali dengan menganggap bisa memodifikasi dan mengubah segala hak cipta di dalam film tersebut.

"Intinya di dalam replik ini bahwa perjanjian itu (antara Falcon dan PT. Layar Cipta Karya Mas Film) kita anggap enggak ada. Karena syarat objektifnya tidak terpenuhi. Jadi ada pertentangan dengan UU Hak Cipta, di mana dikatakan bahwa perjanjian lisensi tidak boleh menjadi sarana untuk mengambil alih dan/atau menghilangkan hak pencipta atas ciptaannya. Itu ada di UU No.28/2014," ucap Bakhtiar.

Sementara itu, kuasa hukum Falcon dan MAX, Atep Koswara, enggan menanggapi agenda replik. Ia juga enggan mengomentari persoalan tentang perjanjian yang disebut pihak Syamsul tidak resmi.

"Itu sudah masuk materi persidangan, jadi saya tidak boleh komentar soal itu, karena ini akan mempengaruhi pada sidang berikutnya," kata Atep.

Sebelumnya, Konsultan Hukum Falcon Picture, Lydia Wongso, mengaku bahwa pihaknya sudah membeli hak cipta Benyamin Biang Kerok. Bahkan, telah mendaftarkannya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).

Baca juga : Kronologi Kasus Dugaan Pelanggaran Hak Cipta Film Benyamin Biang Kerok

"Kami sudah membeli dari sekian orang, kami pembeli terakhir. Kami mencatatkan hal tersebut di HaKI. Tiba-tiba Pak Syamsul Fuad mengaku mengklaim dirinya sebagai pencipta," kata Lydia dalam konferensi pers di Kantor Falcon Pictures, Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (20/4/2018).

Baca juga : Falcon Pictures Siap Berdamai dengan Penulis Naskah Asli Benyamin Biang Kerok

Menurut Lydia, Syamsul seolah-olah mengakui sebagai pencipta. Padahal, kata dia, belum tentu seorang penulis adalah pemegang hak cipta. Jika dalam kesatuan film, lanjutnya, maka itu merupakan milik produser dengan rumah produksi yang menaunginya.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X