Indro Warkop: Sekarang Zaman yang Lebih Bebas

Kompas.com - 23/08/2018, 19:16 WIB
Komedian senior Indro Warkop saat ditemui dalam media gathering film Gila Lu Ndro! di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (21/8/2018). KOMPAS.com/ANDIKA ADITIAKomedian senior Indro Warkop saat ditemui dalam media gathering film Gila Lu Ndro! di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (21/8/2018).

Komedian senior Indro Warkop saat ditemui dalam media gathering film Gila Lu Ndro! di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (21/8/2018).KOMPAS.com/ANDIKA ADITIA Komedian senior Indro Warkop saat ditemui dalam media gathering film Gila Lu Ndro! di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (21/8/2018).
JAKARTA, KOMPAS.com – Sekitar tahun 1970 sampai 2000-an dunia hiburan Indonesia diramaikan oleh banyak grup lawak.

Pada kurun waktu tersebut, banyak grup lawak lahir, seperti Kwartet Jaya, Warkop, Jayakarta Grup, Bagito, dan Patrio adalah beberapa diantaranya.

Terakhir kali euforia kehadiran grup lawak terjadi pada pertengahan era 2000-an ketika salah satu stasiun televisi swasta mengadakan acara audisi grup lawak, jebolannya yang sempat terkenal adalah SOS, Bajaj, dan Limau.

Namun kini, eksistensi grup lawak perlahan mulai redup dan nyaris tak ada yang tersisa. Model lawak tunggal atau stand up comedy mulai menggantikannya.

Baca juga: Indro Warkop: Gila Lu Ndro! Keinginan Dono Warkop yang Terwujud

Menurut salah satu komedian senior, Indro Warkop, hal tersebut terjadi karena perubahan zaman yang lebih bebas berekspresi.

“Gejala sosial sih ya, sekarang kan lebih pada zaman yang bebas banget ya, berbeda dikit bikin bendera (grup lawak) baru, bukan hanya bubar, tapi terus pindah sana, loncat sana, loncat sini,” ucap Indro Warkop ketika ditemui di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (21/8/2018).

Indro mengungkapkan, mempertahankan grup lawak bukanlah hal mudah. Menurutnya, langgengnya kebersamaan Warkop yang ia jalani Bersama Dono dan Kasino adalah sebuah kebetulan.

“Kebetulannya gini, kebetulan kita dari latar belakang yang sama, jadinya pemikiran dan yang lainnya match,” kata Indro.

Indro menambahkan,  agar tak mudah pecah karena perselisihan, sebuah grup lawak harus memiliki satu ikatan yang kuat.

“Buktinya Kasino, Dono pernah enggak ngomong tiga tahun, tapi tetap shooting bareng. Siapa yang tahu, siapa yang lihat, soalnya Warkop itu di atasnya Indonesia. Indonesia tetap, kita berbeda kok, kita enggak harus sama, tapi ngapain juga harus menghujat,” ucap Indro.

Indro pun bersyukur atas kelanggengan Warkop dan menganggapnya sebagai sebuah anugerah.

“Kebetulan kita lagi main-main terus jadi grup lawak dan legend, itu yang harus disyukuri,” kata Indro.

Baca juga: Asuransi untuk Biaya Pengobatan Istri Indro Warkop Sudah Capai Limit



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X