Jimi "Hutan Tropis" Tak Sekedar Bicara Lingkungan

Kompas.com - 04/09/2018, 17:49 WIB
Kelompok musik Hutan Tropis usai launching album 3500 HZ di Bingen Cafe, Palembang, Jumat 31 Agustus 2018. Kompas.com/Jodhi YudonoKelompok musik Hutan Tropis usai launching album 3500 HZ di Bingen Cafe, Palembang, Jumat 31 Agustus 2018.


Pertama kali bertemu dengannya di sebuah acara di Jakarta. Kami sama-sama menyaksikan pertunjukan penyanyi Syaharani. Dia bersama sang isteri yang sedang mengandung dan seorang kawannya yang mengaku bernama Samiaji.

Jimi, begitu dia menyebut namanya. Jimi Delvian lengkapnya. Sekilas tak ada yang istimewa pada anak muda ini. Badannya gempal, kulit bersih. Selebihnya ya seperti anak muda kebanyakan.

Bertahun-tahun kami berpisah dan tak bertukar kabar. Sampai pada suatu hari, kami dipertemukan kembali di Palembang pada sebuah acara pelantikan kepengurusan Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumatera Selatan. Saat itu saya kian mengenalnya, setelah dia mengaku memiliki kelompok musik bernama "Hutan Tropis" seraya memberikan sebuah lagu karyanya  melalui What's Up, yang dia beri judul "3500 HZ".

Dari nama kelompok musiknya saya langsung menduga jika Hutan Tropis tentulah membawakan lagu-lagu bertema lingkungan hidup. Semula saya menduga, tentulah Hutan Tropis sama dengan kebanyakan para penyuara lingkungan hidup lainnya yang bercerita tentang kekhawatiran bolongnya lubang ozon, mencairnya es di wilayah kutub, dan bumi yang kian panas. Ternyata tidak.

Melalui lagu "3500 HZ", Hutan Tropis tak hanya menawarkan bunyi dan keindahan komposisi. Melainkan juga kisah yang jarang diangkat kebanyakan musisi. Jimi bilang, "3500 HZ" bercerita tentang binatang tongeret yang berbunyi pada jam-jam tertentu sebagai penanda waktu shalat.

Bukan cuma itu, lanjut Jimi, tongeret atau “Sesiagh” dalam bahasa besemah, Sumsel, adalah serangga kecil sejenis kumbang yang bisa menjadi contoh suara alam yang kontribusinya terhadap keseimbangan alam sangat luar biasa. Frekuensi suaranya jika diukur berkisar pada frekwensi 3500 hz ini membuat mulut daun (stomata) bergetar hingga menyempurnakan proses fotosintesis tumbuhan di sekitarnya.

"3500 HZ" merupakan gambaran betapa hewan sekecil dan selemah Sesiagh amatlah berarti bagi keseimbangan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hutan Tropis ingin menjadi Sesiagh, Hutan Tropis merupakan kerinduan akan masa lalu sekaligus merupakan doa dan harapan akan masa depan. Hutan Tropis adalah suara penduduk bumi," ucap Jimi.

Pertemuan kami berikutnya adalah saat saya diundang pada acara launching album Hutan Tropis Launching “3500 HZ” yang berlangsung di Bingen Cafe, Palembang, Jumat 31 Agustus 2018 lalu.

Hujan yang mendera Kota Palembang pada malam itu, tak menyurutkan Jimi dan kawan-kawan serta para tamu yang memadati tempat acara yang terbuka itu. Sehingga acara baru dimulai pukul 21.30 WIB setelah hujan sedikit reda. Maka jadilah, antara semangat penampil dan penonton bersabung dengan kecemasan akan hujan deras yang bisa tiba-tiba turun. Untunglah, hujan cuma rintik belaka. Pertunjukan bisa berlangsung hingga selesai pada pukul 23.00 WIB.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.