Kekuasaan, Tafsir, dan Kebudayaan

Kompas.com - 20/12/2018, 18:04 WIB
Aksi seni performance  perupa Heri Dono, berupa orasi budaya pada sekelompok kambing di Galeri Nasional (2010).  Karena manusia-manusia sudah tidak ada yang peduli pada  harkat kemanusiaannya sendiri. Foto: Usman IskandarDok Usman Iskandar Aksi seni performance perupa Heri Dono, berupa orasi budaya pada sekelompok kambing di Galeri Nasional (2010). Karena manusia-manusia sudah tidak ada yang peduli pada harkat kemanusiaannya sendiri. Foto: Usman Iskandar

ADA saat kekuasaan mengendalikan kereta zaman. Saisnya menafsir arah, membaca rambu-rambu jalan kebudayaan. Mereka, dengan tangannya memintal ruh masa dan peristiwa-peristiwa dengan sejumlah rumusan-rumusan.

Totalitas sekelompok manusia yang selalu bertukar posisi, biasa disebut habitus, bersemayam di strata sosial inilah yang memberi warna nasib jutaan manusia kelak.

Sementara dinamika kebudayaan secara alamiah tidak tunggal. Ia semacam takdir, meraup luas spektrum-spektrumnya menjamah ranah politik, ekonomi, ilmu pengetahuan sekaligus yang paling abstraktif dalam hidup manusia, yakni imajinasi tentang diri dan lingkungannya.

Kuasa atas tafsir jalannya kebudayaan bisa jadi benar atau malahan: sesat.

Seperti Adolf Hitler dengan buku Mein Kampf-nya, mencoba menjawab kondisi negerinya yang muram. Buku yang ditulis semasa ia dipenjara, mengandaikan utopia masa depan terang bagi Jerman.

Namun, imajinasi liarnya memastikan politik fasisme paling layak, membuang demokrasi ke keranjang sampah.

Pada akhirnya, nasionalisme sempit memberangus habis budaya Yahudi, bangsa Arya-lah yang paling beradab. Yang tragik, tentu saja mengobarkan perang dunia Ke-II, melecehkan kemanusiaan dengan Holocaust.

Saat lain, pendulum waktu bergerak menemui seorang Bapu (Gujarat-Bapa), memaksa negara Inggeris Raya takluk tidak dengan perang, namun dengan kekuatan spiritual pun gerakan kebudayaan.

Seorang Mahatma (jiwa yang Agung) memobilisasi jutaan manusia turun ke jalan, memakai produk-produk buatan sendiri, memboikot kerja di pabrik-pabrik, menolak segala hal yang asing, berjuang dengan nir kekerasan.

Gandhi dengan Satyagraha-nya (jalan yang benar dan anti kekerasan) membuka mata lebar-lebar berbagai generasi aktivis demokrasi, anti-rasisme pada abad ke-20, seperti Martin Luther King, Jr atau Nelson Mandela.

Di Tanah Air, Ki Hajar Dewantara mengikrarkan akar-akar perubahan yang memberi pemajuan budaya berupa pendidikan. Kuasa dan tafsir bersisihan bersama bagi kaum terjajah yang terdidik.

Ia memandu kemuliaan masa depan yang diraih dengan pendidikan dengan tak menaggalkan nilai-nilai lokalitas, ekspresi-ekspresi seni dan sastra, serta kebajikan-kebajikan yang terwariskan bangsa majemuk ini dalam rentang yang lama.

Ki Hajar Dewantara, yang berdarah bangsawan ini rela meniadakan dirinya dalam strata sosial, melebur di jiwa jelata. Ia sesungguhnya memprovokasi kesadaran kultural, meninggikan kemandirian nalar seraya mencerahkan sebagai seorang guru.

Halaman:


Terkini Lainnya

Zaskia Adya Mecca: Hanung Bramantyo Tegang Selama Shooting Bumi Manusia

Zaskia Adya Mecca: Hanung Bramantyo Tegang Selama Shooting Bumi Manusia

Seleb
Hanung Bramantyo Kenalkan Bumi Manusia Sejak Awal Menikah, Zaskia Adya Mecca 'Kecanduan'

Hanung Bramantyo Kenalkan Bumi Manusia Sejak Awal Menikah, Zaskia Adya Mecca 'Kecanduan'

Film
Hanung Sebut Mawar De Jongh Langsung Menangis Usai Dengar Kisah Annelies

Hanung Sebut Mawar De Jongh Langsung Menangis Usai Dengar Kisah Annelies

Film
Alasan Mengharukan di Balik Aksi Sarwendah Antar Anak ke Sekolah Pakai Sepeda

Alasan Mengharukan di Balik Aksi Sarwendah Antar Anak ke Sekolah Pakai Sepeda

Seleb
Komentar Keluarga dan Kekasih soal Utang Rp 17 Miliar Kevin Aprilio

Komentar Keluarga dan Kekasih soal Utang Rp 17 Miliar Kevin Aprilio

Seleb
Kembali ke Bioskop Pekan Depan, Avengers: Endgame Akan Bawa Kejutan

Kembali ke Bioskop Pekan Depan, Avengers: Endgame Akan Bawa Kejutan

Film
Kevin Aprilio Pernah Ingin Bunuh Diri gara-gara Utang Rp 17 Miliar

Kevin Aprilio Pernah Ingin Bunuh Diri gara-gara Utang Rp 17 Miliar

Seleb
Tetap Setia di Tengah Utang Miliaran Kevin Aprilio, Vicy Melanie Dipuji bak Malaikat

Tetap Setia di Tengah Utang Miliaran Kevin Aprilio, Vicy Melanie Dipuji bak Malaikat

Seleb
Hadirkan Sederet Bintang Musik 90-an, Ini Harga Tiket Festival Mesin Waktu 2019

Hadirkan Sederet Bintang Musik 90-an, Ini Harga Tiket Festival Mesin Waktu 2019

Musik
Kevin Aprilio Curhat Pernah Dililit Utang Rp 17 Miliar

Kevin Aprilio Curhat Pernah Dililit Utang Rp 17 Miliar

Seleb
Antar Anak ke Sekolah, Sarwendah Hanya Kenakan Daster dan Naik Sepeda

Antar Anak ke Sekolah, Sarwendah Hanya Kenakan Daster dan Naik Sepeda

Seleb
Rendy Pandugo, Gamaliel, Petra Sihombing, dan Teddy Adhitya Bakal 'Tergabung' dalam Boyband

Rendy Pandugo, Gamaliel, Petra Sihombing, dan Teddy Adhitya Bakal 'Tergabung' dalam Boyband

Musik
7 Drama Korea yang Sayang jika Dilewatkan Tahun Ini

7 Drama Korea yang Sayang jika Dilewatkan Tahun Ini

Film
Dewa 19, Dul Jaelani, hingga Glenn Fredly Bakal Ramaikan Festival Mesin Waktu 2019

Dewa 19, Dul Jaelani, hingga Glenn Fredly Bakal Ramaikan Festival Mesin Waktu 2019

Musik
Gina S Noer Sempat Tak Tega Pilih Zara JKT48 Perankan Dara dalam Film Dua Garis Biru

Gina S Noer Sempat Tak Tega Pilih Zara JKT48 Perankan Dara dalam Film Dua Garis Biru

Film

Close Ads X