Ade Jigo Ceritakan Kronologi Saat Diterjang Tsunami Selat Sunda

Kompas.com - 03/01/2019, 21:46 WIB
Ade Jigo saat ditemui usai mengisi sebuah acara di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2019). KOMPAS.com/IRA GITAAde Jigo saat ditemui usai mengisi sebuah acara di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelawak Ade Jigo menjadi salah satu korban bencana tsunami yang melanda Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu.

Saat ditemui usai mengisi sebuah acara di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2019), Ade menceritakan kronologi saat dirinya diterjang tsunami.

Saat itu Ade bersama Aa Jimmy bertugas sebagai pemandu sebuah acara, mereka sudah turun panggung dan memanggil grup band Seventeen untuk tampil.

"Pada saat kejadian 21.05 itu Jigo sudah present Seventeen dan sudah turun, memang kita sudah closing gantung dan pada saat turun saya sempat ke backstage untuk beres-beres," kata Ade.

Baca juga: Ade Jigo Terjebak di Gorong-gorong setelah Diterjang Tsunami Banten

Ade sempat mengajak anak bungsunya untuk menyaksikan penampilan Seventeen ke depan panggung.

"Saya ambil anak saya mau saya ajak jalan-jalan ke depan panggung sambil nonton Seventeen," ucapnya.

"Dan 9.20 itu Seventeen udah masuk lagu yang kedua, kita masih nonton, masih nikmatin, dan saya sempat jalan-jalan kanan-kiri-kanan-kiri sama anak saya yang kecil," sambung Ade.

Tiba-tiba ketika ingin memberikan kopi kepada Aa Jimmy, Ade sudah melihat gumpalan air laut setinggi 2 meter mulai mendekat. Sontak Ade pun langsung berlari sambil memeluk anaknya.

"Terus saya melihat kopi di tenda, Aa Jimmy kan hobi banget dengan kopi, Pada saat saya mau kasih tahu, mau balikkan badan itu saya udah lihat air datang," tutur Ade.

"Namun posisi air itu ya kurang lebih dua meter. Saya lari, orang udah banyak yang teriak 'air, air', lari lima langkah saya udah kegulung (gelombang air). Saya sama anak saya pelukan gimana caranya saya selamat sama anak saya," sambungnya.

Setelah tergulung ombak selama lima menit, Ade akhirnya bisa selamat karena menaiki seutas tali yang berada di depannya.

"Dan kegulung tuh kurang lebih lima menit, saya udah sentuhan macam-macam, ada besi, tembok, kayu, dan mohon maaf ada manusia juga," ujar Ade.

"Saya megang tali, itu tali melintas persis depan saya, itu kencang talinya. Kemudian saya ambil tali untuk naik ke permukaan biar anak saya bisa bernapas," lanjutnya.

"Karena memang lama di dalam air sama saya, saya pun naik ke atas, saya pegang plafon atasnya itu ternyata tembok," imbuh Ade.

Baca juga: Istri Komedian Ade Jigo Jadi Korban Meninggal Tsunami Banten




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X