DreadOut: Popularitas, Ponsel Pintar, dan Hantu

Kompas.com - 04/01/2019, 12:57 WIB
Aktor peran Caitlin Halderman dan sutradara Kimo Stamboel (kanan) berpose di sela wawancara promo film DreadOut di Menara Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (12/12/2018). Film yang bergenre horor ini diangkat dari sebuah game buatan developer lokal Indonesia yaitu Digital Hapiness. Film ini akan segera tayang pada 3 Januari 2019 mendatang.KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI Aktor peran Caitlin Halderman dan sutradara Kimo Stamboel (kanan) berpose di sela wawancara promo film DreadOut di Menara Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (12/12/2018). Film yang bergenre horor ini diangkat dari sebuah game buatan developer lokal Indonesia yaitu Digital Hapiness. Film ini akan segera tayang pada 3 Januari 2019 mendatang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Film DreadOut yang diadaptasi dari game video populer berjudul sama menjadi pewarna baru di industri perfilman Tanah Air pada awal 2019 ini.

Diramu oleh sutradara Kimo Stamboel, DreadOut menghadirkan suasana horor yang unik dan berbeda. Film itu menceritakan demi meraup sebuah popularitas, sekelompok anak remaja nekat melakukan sesuatu yang bisa membahayakan diri mereka.

Cerita bermula ketika Jessica (Marsha Aruan), Dian (Susan Sameh), Erik (Jefri Nichol), Alex (Ciccio Manassero), dan Beni (Muhammad Riza Irsyadillah) memutuskan untuk pergi ke apartemen angker yang tak berpenghuni.

Mereka ingin membuat konten siaran langsung lewat media sosial untuk meningkatkan popularitas. Hanya Linda (Caitilin Halderman), teman satu sekolah mereka, yang bisa merayu Satpam Heri (Mike Lucock) agar mereka bebas menyusuri seluruh apartemen tersebut.

Di dalamnya mereka memasuki sebuah ruang terlarang dan menemukan sebuah perkamen tua usang. Tanpa terduga, mereka malah membuka portal misterius yang membawa mereka ke dimensi lain.

Kimo, yang kini meracik sendiri filmnya tanpa Timo Tjahjanto sebagai pasangannya dalam Mo Brothers, langsung menggambarkan cerita awal tanpa bertele-tele.

Seperti versi game videonya, petualangan lewat ponsel pintar menjadi senjata utama Kimo menyajikan sensasi baru dalam film ini. Cukup banyak pengambilan gambar lewat kamera ponsel pintar pada tiap-tiap karakter.

Jessica dan kawan-kawan yang dilanda ketakutan berusaha menghadapi hantu-hantu yang mereka temui dengan menggunakan ponsel pintar.

Sementara itu popularitas live melalui media sosial hanya menjadi pengantar cerita. Namun fenomena ini sudah lazim dan mengena pada diri kaum milenial.

Kimo masih tetap menyuguhkan ciri khasnya meski harus mengerem unsur sadisme lantaran hanya lulus diklasifikasi 17 tahun.

Sinematografi yang ditampilkan mendukung kesan aparteman yang begitu angker, munculnya ornamen kuno mistis, dan suasana alam yang mencekam. Selipan humor menggelitik pun tetap disuguhkan di tengah suasana yang amat mencekam.

Di sisi lain, ada beberapa pesan penting, terutama kepada para remaja, yang akrab dengan media sosial. Di antaranya adalah untuk tidak mendewakan diri sendiri ataupun orang lain hanya untuk popularitas atau like di media sosial.

Film DreadOut garapan rumah produksi GoodHouse Production bekerja sama dengan CJ Entertainment, Sky Media, Nimpuna Sinema & Lyto tayang di bioskop mulai 3 Januari 2019.

Baca juga: Kimo Stamboel Adaptasi Seluruh Unsur Game DreadOut untuk Filmnya

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X