Maxime Bouttier Ungkapkan Alasannya Pilih Genre Horor

Kompas.com - 11/02/2019, 19:59 WIB
Maxime Bouttier ditemui usai press screening film Kain Kafan Hitam di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/1/2019)KOMPAS.com/IRA GITA Maxime Bouttier ditemui usai press screening film Kain Kafan Hitam di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/1/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com -- Artis peran Maxime Bouttier (25) mulai melebarkan sayap ke pekerjaan di balik layar. Selain jadi pemain, Maxime juga menyutradarai film horor Kain Kafan Hitam.

Pemuda berdarah Perancis-Indonesia ini mengungkapkan alasannya memilih genre horor untuk film pertamanya selaku sutradara.

Hal itu diungkapkan oleh Maxime ketika ditemui usai press screening film Kain Kafan Hitam di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/1/2019).

Baca juga: Maxime Bouttier Kerja Rangkap untuk Film Kain Kafan Hitam

"Kalau horor lebih ke angle-angle untuk shot-nya yang aku pikirin, terus suspense-nya  harus diulur. Itu sih yang aku tertarik, jadi bagaimana mengambil shot-nya. Jadi, menginterpretasi skenario ke set," kata Maxime.

"Ini pengalaman berbeda, soalnya aku bukan berdialog aja sama pemain lain, tapi nge-direct juga. Jadi sutradara ini kali pertama," sambungnya.

Baca juga: Maxime Bouttier Bocorkan Film Horor Terbarunya

Maxime Bouttier bercerita bahwa selama lima hari penuh ia menjalani tugasnya sebagai sutradara dan pemeran.

"Di lokasi sih aku lima hari full benar-benar yang nyutradrai, aku ambil angle-nya, berkomunikasi dengan DOP-nya (director of photography-nya), lebih banyak di situ sih," tuturnya.

Baca juga: Maxime Bouttier Tak Ajak Prilly Latuconsina Main Film yang Disutradarainya

Maxime mengakui ketertarikannya untuk menekuni pekerjaan di balik layar tersebut telah lama muncul. Kekasih artis peran Prilly Latuconsina ini lalu belajar menyutradarai film yang skenarionya berbahasa Indonesia.

"Kalau tertarik sih dari dulu udah tertarik, lebih tetarik untuk membuat cerita sih, kayak menulis skenario. Menyutradarai ini adalah pintu awal untuk menulis skenario dan buat film," ujarnya.

"Aku harus ngertiin dulu, gimana kondisinya jadi sutradara yang skenarionya dibuat dalam bahasa Indonesia. Soalnya, biasa kan aku pakai bahasa Inggris. Ya, itulah pengalaman pertama aku," imbuhnya.



Close Ads X