Memedi Sawah Bergentayangan di Bentara Solo

Kompas.com - 15/03/2019, 02:02 WIB
Pameran Memedi Sawah oleh seniman Yogyakarta, Hari Budiono, di Balai Soedjatmoko Solo, 24-20 Maret 2019.Hery Gaos Pameran Memedi Sawah oleh seniman Yogyakarta, Hari Budiono, di Balai Soedjatmoko Solo, 24-20 Maret 2019.

SURAKARTA, KOMPAS.com--ADA ketakutan yang mencekam, jerit pilu, luka yang mengiris hati, pun kepedihan yang bisa menguras air mata ketika tertampar dalam pameran Memedi Sawah oleh seniman Yogyakarta, Hari Budiono, di Balai Soedjatmoko Solo, 24-20 Maret 2019.

Lalu, lagu Ibu Pertiwi karya Ismail Marzuki yang syairnya ditulis dalam 15 kanvas dan dibawa memedi sawah itu, serasa menegaskan kepedihan negeri ini.

"Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati. Air matanya berlinang. Mas intanmu terkenang..."

Ya, Indonesia. Negeri yang rukun-makmur, toleran, gotong royong, penuh kasih dan murah senyum serta banyak tawa, ternyata makin berubah.

Kenyataan kemasyarakatan Indonesia makin hari makin jauh dari gambaran indah itu.

Ujaran kebencian berseliweran, bahasa nyinyir makin menonjol dalam komunikasi kebangsaan dan kemasyarakatan. Bahkan, tiba-tiba banyak manusia secara individu maupun kelompok menjadi menakutkan.

Di jalanan, di televisi, di keseharian hidup banyak yang berwajah garang dan menakutkan, bahkan sengaja menyebar ketakutan.

Potret sosial ini yang kemudian direspons Hari Budiono dalam pameran tunggal berjudul "Jangan Takut Memedi Sawah".

Hari Budiono membuat pameran instalasi dengan menghadirkan 115 memedi sawah, terbuat dari alang-alang Gunung Merapi.

Sebanyak 15 memedi sawah memegang kanvas-kanvas potongan syair Ibu Pertiwi.

Sedangkan 100 memedi sawah lainnya memegang potret-potret manusia Indonesia, baik yang terkenal maupun orang biasa, dalam tawa penuh cinta.

"Memedi sawah itu bagi petani adalah berkah, karena membantu menjaga sawah. Mereka menakut-nakuti burung-burung agar tak makan padi," jelas Hari Budiono.

Halaman:



Close Ads X