Pameran Puisi UGM Membuka Mei 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta

Kompas.com - 30/04/2019, 18:03 WIB
Bentara Budaya Yogyakarta Dok Bentara Budaya YogyakartaBentara Budaya Yogyakarta
Penulis Ati Kamil
|
Editor Ati Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Mei 2019 datang. Dalam minggu pertamanya, Bentara Budaya Yogyakarta menyajikan dua acara untuk umum.

1. Festival Sastra UGM 2019: Pameran Puisi "Aku"

Talkshow dan bedah buku Puisi Mata Angin dan Seekor Anjing bersama Faruk HT
Hiburan: GS Lincak, Jamming Band, DoaIbu, dan Sisir Tanah
Waktu: Rabu, 1 Mei 2019, mulai pukul 15.30 WIB sampai selesai
Tempat: Bentara Budaya Yogyakarta, Jl Suroto No 2, Kotabaru, Yogyakarta.

"Aku", judul salah satu puisi terkenal mendiang Chairil Anwar, menjadi sumber inspirasi dan tema pameran puisi dalam Festival Sastra UGM 2019. Tema itu terinspirasi dari puisi karya Chairil yang bertajuk "Aku".

Tiap baris puisi tersebut dihidupkan kembali dalam bentuk visualisasi dalam karya dua dimensi dan tiga dimensi.

Diharapkan, melalui pameran itu, interpretasi terhadap puisi "Aku" akan melahirkan interpretasi baru para pengunjung mengenai puisi tersebut.

Baca juga: Ayo Datang ke Pameran 30 Finalis Triennial Seni Grafis VI Bentara Budaya

2. Pameran Tunggal Subandi Giyanto: Nunggak Semi

Pembukaan: Jumat, 3 Mei 2019, mulai pukul 19.30 WIB
Waktu: 3-11 Mei 2019, mulai 09.00–21.00 WIB
Tempat: Bentara Budaya Yogyakarta, Jl Suroto No 2 Kotabaru, Yogyakarta
Pameran dibuka oleh Dr Suwarno Wisetrotomo
Acara dimeriahkan oleh Pentas Wayang Interaktif oleh Dalang (dalam training) Ki Samuel Indratma.

Subandi Giyanto, yang lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 22 Juni 1958, dalam pameran berjudul Nunggak Semi memamerkan 28 lukisan pada kanvas dengan cat akrilik dan 11 lukisan kaca.
 
Subandi disebut telah aktif berkesenian sejak berusia tujuh tahun. Disebut pula, sedari SD ia sudah aktif ikut lomba.

Setelah masuk Sekolah Seni Rupa Indonesia Yogyakarta, cikal bakal Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta, pada 1975, ia mulai mengenal seni lukis.

Baca juga: Penyanyi Jazz Amelia Ong Bawa Mentari ke Bentara Budaya Yogyakarta

Keahlian menatah dan menyungging wayang kulit diperoleh Subandi Giyanto dari ayahnya, Giyanto Wiguna.

Pada 1979 ia mulai menyungging kaca menjadi lukisan kaca.

Ia tercatat berpameran bersama pada 2004-2018. Pada 2013 ia masuk dalam Buku Profil Seniman dan Budayawan #12.

Pameran Nunggak Semi merupakan pameran tunggal pertamanya untuk lukisan pada kanvas setelah pameran tunggalnya untuk lukisan kaca pada 2004.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X